Register | Member login

Buah Rindu (1941)

Walaupun baru diterbitkan pada tahun 1941, namun puisi-puisi Amir Hamzah yang terhimpun dalam Buah Rindu telah ditulis lebih dulu daripada puisi-puisi dalam Nyanyi Sunyi yang diterbitkan pada tahun 1937. Antologi Buah Rindu berisi 28 judul puisi*. Pada halaman terakhir, yang merupakan halaman persembahan, tercantum:

Ke bawah paduka Indonesia-Raya
Ke bawah lebu Ibu-Ratu
Ke bawah kaki Sendari-Dewi

Sementara itu, di bawahnya tercantum titimangsa: Jakarta-Solo-Jakarta 1928-1935.

Achdiat K. Mihardja, yang kenal secara pribadi dengan Amir, menjelaskan bahwa dalam antologi ini “nampak oleh kita bayangan jiwa Amir di dalam masa tujuh tahun ia berada di dua kota [yaitu] Jakarta dan Solo itu” (Achdiat K. Mihardja dalam Abrar Yusra, 1996:92). Sementara itu, Ajip Rosidi (dalam Yusra, 1996:95) menduga bahwa Amir sendiri masih menganggap Buah Rindu sebagai “latihan untuk kemudian menulis Nyanyi Sunyi” dan “Buah Rindu adalah percobaan-percobaan pertama Amir menulis sajak”.

A. Teeuw (1959:116), ketika membahas antologi ini dalam Pokok dan Tokoh I (Jakarta, 1959) menyatakan bahwa dalam antologi ini, pembaca akan “bertemu dengan penyanyi kesunyian, penyanyi kerinduan kepada kampung halaman”. Kerinduan itu dilukiskan dalam berbagai bentuk dan masih ditujukan kepada berbagai hal di negeri ini (Indonesia, waktu itu masih bernama resmi Hindia-Belanda). Kadang-kadang kerinduan itu tertuju kepada tanah airnya (Sumatra) sebab sanjak-sanjak [sic] itu dituliskan pada masa Hamzah belajar di Jawa.

Dari puisi-puisi dalam Buah Rindu dan biografi-biografinya, memang muncul kesan bahwa selama di Jawa, Amir merasa menjadi orang asing, namun keasingan itu kemudian dirasakannya bukan hanya karena ia berada di Jawa saja, tetapi juga karena ia berada di sini, di dunia ini. Inilah yang kemudian menjadi dasar-corak puisinya: diri yang merasa asing dan sepi serta sunyi.

Keistimewaan Amir sebagai penyair adalah bahwa ia mengungkapkan hal ini menurut kebiasaan lama, misalnya dengan menamakan dirinya sebagai dagang, musafir lata, hina, fakir, dan kelana, tetapi dengan arti dan nuansa yang baru. Achdiat (dalam Yusra, 1996:91) mencermati bahwa kekuatan Amir terutama terletak dalam menyusun suara dan kiasan. Ia sangat pandai menyusun kata-kata yang merupakan rangkaian suara yang sangat merdu. Amir sangat bebas memasukkan kata-kata Jawa, Kawi atau Sanskerta ke dalam sajak-sajaknya, misalnya dewangga, dewala, sura, prawira, estu, ningrum, padma, cendera, deksina, purwa, jampi, sekar, alas, maskumambang, rangkum-rinangkum dan lain-lain.

Intensifikasi keasingan, kesepian, dan kesunyian dalam diri Amir terepresentasikan juga, misalnya, dalam panggilan-panggilannya kepada ibu: Amir dalam Buah Rindu berkali-kali menggunakan panggilan Ibu dan Bonda. Teeuw (1959:116) menduga bahwa, walaupun mula-mula tidak bisa dipastikan apakah ibu biologis Amir atau tanah air yang mesti mendengarkan ratapan si penyair, pembaca dapat segera tahu bahwa yang dua itu satu saja bagi Amir. Hal ini terasa kuat dalam bait ini:

Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda?

Demikian sunyi dan pedihnya “nasib” si penyair hingga hanya maut saja yang patut diinginkan karena dianggap akan dapat melepaskan diri dari “derita”:

Datanglah engkau, wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Amir memang masih menggunakan lambang-lambang yang bisa digunakan oleh para penyair mana pun, baik para penyair dari dunia Barat maupun Timur, misalnya bunga dan burung – mungkin inilah sebabnya mengapa H.B. Jassin menyebutnya sebagai “wakil dari zaman (Melayu) lama”. Akan tetapi, meskipun kedua lambang lazim ini berulang-ulang dipakainya untuk mengungkapkan kesunyian, ragam atau cara pengungkapannya berbeda-beda. Lambang-lambang itu diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan corak khas bahasa Melayu/Indonesia yang lebih segar. Amir menghayatinya dengan sedemikian rupa sehingga ia mampu dengan hemat dan tepat mempergunakannya dan “alangkah indahnya pula sekonyong-konyong jadinya perumpamaan yang tua dan usang itu” (Teeuw, 1959:118):

Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musyafir lata

Sesaat, sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manakah tuan berjalan,
Di negeri manakan tuan bertahan?

Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia.

Secara panjang lebar, A. Teeuw mengomentari pembaruan Amir terhadap bahasa Melayu/Indonesia melalui puisi-puisi dalam Buah Rindu ini sebagai berikut:

Dalam artinya yang lebih terbatas, Amir Hamzah mempergunakan secara sangat menguntungkan sekali kemungkinan-kemungkinan yang didapatkan pada bahasa, tetapi caranya bercorak kepribadian dirinya dan bersifat hidup gembira. Untaian yang kebanyakan berbaris empat dengan sajak-ujung itu ialah untaian syair. Baris yang mengandung empat kata itu pun, yang tidak mungkin ditiru dalam bahasa lain, dengan keindahannya yang sederhana, dengan sajak-antara, dengan aliterasi yang semuanya memperlihatkan sifat-sifat yang terkenal pada kesusastraan Melayu-kuno [sic], tetapi yang di sini tidak dipakai secara klise saja. Di sini, ilham tidak dirusakkan hanya karena hendak memelihara sajak, tak ada tambahan-tambahan yang tak berarti, atau yang diadakan asal saja baris dapat dipenuhkan, tak ada barang suatu yang ditinggalkan saja dengan tak dapat dipertanggungjawabkan, oleh karena baris itu telah penuh, tak pula ada hanya bunyi yang menyembunyikan kekosongan batin saja. Tidak, di sini seorang penyair muda telah dapat menciptakan persesuaian yang indah antara tua dan muda, antara kekunoan dan kebebasan, antara aturan dan ilham (Teeuw, 1959:119).

Pilihan Amir untuk menulis puisi yang kemudian disiarkannya dalam bahasa Melayu/Indonesia, pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan Indonesia itu, adalah pilihan yang sangat berani dan maju. Ketika ditanya oleh Achdiat yang keheranan, “Sajakmu dalam bahasa Indonesia?”, Amir menjawab, “Habis dalam bahasa apa aku harus berlagu?” (Mihardja dalam Yusra, 1996:89-90).

Pada zaman itu, belum banyak pemuda terpelajar yang membikin sajak dalam bahasa Indonesia. Kebanyakan masih mencurahkan isi hatinya atau buah pikirannya dalam bahasa Belanda. Tengara perjuangan untuk bahasa Indonesia baru saja berbunyi. Hanya sekali-sekali saja dapat dijumpai sajak-sajak berbahasa Indonesia dalam majalah Indonesia Moeda atau Timboel yang setengah berbahasa Belanda, setengah lagi berbahasa Indonesia. Pujangga-pujangga yang terkenal baru Sanusi Pane dan [Muhammad] Yamin (Mihardja dalam Yusra, 1996: 90).

Namun, Achidat menegaskan bahwa pilihan itu dipengaruhi juga kenyataan bahwa Amir lebih dulu membiasakan diri mempergunakan bahasa Indonesia karena bagi anak-anak Sumatra, bahasa Indonesia itu tidak begitu asing seperti misalnya bagi anak-anak dari Jawa atau Sunda (Mihardja dalam Yusra, 1996: 90). (An. Ismanto/1/TAH/05-2010)


 


Catatan:


* Jumlah ini betul jika “Buah Rindu” 1-4 dihitung masing-masing sebagai satu judul dan “Bonda” 1-2 dihitung masing-masing sebagai satu judul.


_______

Referensi
Mihardja, Achdiat K., 1948. Amir Hamzah dalam kenangan. Dalam Abrar Yusra (Ed.), 1996. Amir Hamzah 1911 – 1946 sebagai manusia dan penyair. Jakarta: Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Rosidi, Ajip, 1960. Amir Hamzah: hati yang ragu. Dalam Abrar Yusra (Ed.), 1996. Amir Hamzah 1911 – 1946 sebagai manusia dan penyair. Jakarta: Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Teeuw, A., 1959. Pokok dan tokoh I. Cetakan ke-5. Jakarta: PT. Pembangunan.

  1. Cempaka.
  2. Cempaka Mulia.
  3. Purnama Raya.
  4. Buah Rindu 1.
  5. Buah Rindu 2.
  6. Buah Rindu 3.
  7. Buah Rindu 4.
  8. Kusangka.
  9. Tinggallah.
  10. Tuhanku Apatah Kekal?.
  11. Senyum Hatiku, Senyum.
  12. Teluk Jayakatera.
  13. Hang Tuah.
  14. Ragu.
  15. Bonda 1.
  16. Bonda 2.
  17. Dagang.
  18. Mabuk.
  19. Sunyi.
  20. Kamadewi.
  21. Kenangan.
  22. Dalam Matamu.
  23. Malam.
  24. Berlagu Hatiku.
  25. Harum Rambutmu.
  26. Berdiri Aku.
  27. Pada Senja.
  28. Naik-naik.
Dibaca : 23.291 kali.