Register | Member login

Karya-karya TAH

Karya-karya Tengku Amir Hamzah

Jika Amir Hamzah tetap hanya seorang Pangeran Indera Putera atau Pangeran Langkat Hulu di Binjai, mungkin dia hanya akan diingat sebagai salah seorang korban dalam bencana sosial di Sumatera Timur Maret 1946. Tetapi dia terutama adalah seorang penyair – terbesar pada zamannya – dan lebih sering dikenal sebagai raja penyair ketimbang sebagai pangeran Kesultanan Langkat.

Amir mewariskan 50 sajak asli1, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris, satu prosa liris terjemahan, 13 prosa dan satu prosa terjemahan. Jumlah seluruhnya adalah 160 tulisan. Jumlah itu masih ditambah dengan Setanggi Timur (puisi terjemahan) dan terjemahan Bhagawat Gita (Abrar Yusra, 1996:58) – serta, tentu saja, entah berapa tulisan yang tak sempat tersiar atau dipublikasikan. Amir Hamzah hanya menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal, yaitu Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937).

Amir Hamzah, seperti yang tercermin dalam karya-karyanya dan berbagai pembahasan tentang dirinya, adalah kontradiksi dan bahan diskusi yang tak habis-habis. Walaupun Amir tercatat sebagai pelopor kebudayaan modern Indonesia karena keikutsertaannya dalam majalah Pujangga Baru, tetapi hal itu tidak mencegah H.B. Jassin untuk menobatkannya sebagai wakil terakhir dari zaman (Melayu) lama (dalam Goenawan Mohamad (2005 dan dalam Yusra [ed.] [1996]).

Dalam pengantar singkat untuk puisi-puisi Amir yang terhimpun dalam Puisi Baru, kumpulan puisi para penyair Pujangga Baru yang baru diterbitkan pada 1946, STA mengungkapkan, “Pada Amir Hamzah, semangat baru bertemu dengan bahasa Melayu lama dalam bentuk, bunyi dan irama yang amat indahnya. Bahasanya payah dipahamkan oleh karena banyak memakai kata lama dan kata daerahnya. Dalam Nyanyi Sunyi, cinta dunia yang tidak sampai dilukiskannya mendapat keredaan di dalam nur Ilahi” (2004:149).

Akan tetapi Abdul Hadi WM justru tidak melihat adanya pemutusan hubungan secara total antara modernitas kesusastraan Indonesia dari sistem kesusastraan Melayu tradisional: Amir adalah seorang penerus tradisi sastra Melayu par excellence (1996, 1999 dan dalam Yusra [ed.] [1996]).

A. Teeuw (1959) lebih cenderung memandang Amir sebagai antidot bagi pemihakan sepenuhnya kepada Barat oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam tafsiran Teeuw, karya-karya Amir menyatakan dengan jelas bahwa “kita dapat menjadi pujangga baru meskipun masih berurat-berakar pada Indonesia, yakni Indonesia purbakala yang oleh Takdir banyak-sedikitnya diejek sebagai zaman jahiliyah” (1959: 112).

Tafsiran Teeuw itu menempatkan Amir sebagai seorang perintis jalan namun bukan penggerak utama bagi zaman baru kesusastraan Indonesia. Modernisasi bahasa Melayu/Indonesia dalam puisi dan perpisahan yang defintif dari dunia Melayu lama baru akan dilaksanakan dengan sempurna oleh Chairil Anwar (Teeuw, 1983). Chairil sendiri pernah memberikan komentar yang remang-remang tentang Amir: ia mengakui bahwa “susunan kata-kata Amir Hamzah bisa dikatakan destructive terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru!” (dalam H.B. Jassin [ed.], 1959:121).

Seolah-olah hendak menengahi perbantahan tentang fenomena Amir Hamzah, Goenawan Mohamad (2005) menempatkan Amir dalam konteks kebudayaan secara luas. Bagi Goenawan, Amir adalah kesaksian suatu zaman transisi yang memiliki konflik-konfliknya sendiri. Akan tetapi konflik-konflik itu tidak berada di luar dirinya melainkan berlangsung di dalam dirinya – “polemik kebudayaan” itu bergolak sebagai “polemik batin” dalam diri Amir.

Diskusi tentang Amir Hamzah dan karya-karyanya masih berlangsung sampai sekarang. Diskusi itu tidak akan selesai dalam waktu-waktu mendatang karena Amir telah memperoleh sebuah tempat dalam sejarah kebudayaan dan kesusastraan Indonesia. Dengan begitu, barangkali keinginan terbesarnya sebagai seorang penyair terpuaskan: selalu dibaca di segala zaman oleh banyak orang. (An Ismanto/2/TAH/07-2010)



Catatan:


1 Jumlah ini didasarkan pada perhitungan H.B. Jassin dalam Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru (1963). Jumlah 50 sajak asli ini akurat jika beberapa sajak yang terpilah menjadi beberapa bagian, misalnya "Buah Rindu" dan "Bonda", dihitung sebagai satu judul.


Referensi
Alisjahbana, Sutan Takdir, 2004. Puisi baru. Cetakan ke-11. Jakarta: Dian Rakyat. Hal. 149.

Hadi, Abdul WM, 2003. “Amir Hamzah dan relevansi sastra Melayu”. Dalam Abrar Yusra [ed.], 1996. Amir Hamzah 1911 – 1946 sebagai manusia dan sebagai penyair. Jakarta: Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Hal. 120-134.

_______, 2003. “Amir Hamzah dan relevansi sastra Melayu”. Dalam Abdul Rozak Zaidan & Dendi Sugono (ed.), 2003. Adakah bangsa dalam sastra? Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.


Mohamad, Goenawan, 1969. “Amir Hamzah dan masanya”. Dalam Abrar Yusra [ed.], 1996. Amir Hamzah 1911 – 1946 sebagai manusia dan sebagai penyair. Jakarta: Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Hal. 120-134.

_______, 2005. “Amir Hamzah dan masanya”. Dalam Goenawan Mohamad, 2005. Ketika revolusi tak ada lagi. Jakarta: Alvabetsastra. Hal. 403-420.


Teeuw, A., 1959. Pokok dan tokoh 1. Jakarta: PT. Pembangunan.

_______, 1983. “Estetik, semiotik, dan sejarah sastra”. Dalam A. Teeuw, 1983. Membaca dan menilai sastra. Jakarta: PT. Gramedia.

Yusra, Abrar [ed.], 1996. Amir Hamzah 1911 – 1946 sebagai manusia dan sebagai penyair. Jakarta: Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

  1. Puisi. (2)
  2. Prosa. (4)
  3. Prosa Liris. (6)