Register | Member login
Opini
10 Juni 2011

Bahasa Indonesia yang (Kian) Tersisih


 

Oleh Yusuf Efendi

Seperti tahun lalu, tahun ini Bahasa Indonesia kembali tersisih. Mayoritas pelajar di negeri ini tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) karena mendapat nilai rendah pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebaliknya, mereka justru mendapat nilai tinggi untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Ironisnya, fenomena ini terjadi di hampir seluruh sekolah di Indonesia. Tak ayal, beberapa pihak yang terkait pun saling tuding, seakan mau lepas tangan terhadap masalah ini.

Tersisihnya bahasa nasional di negeri sendiri ini tentu saja memprihatinkan. Ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, yang salah satu isinya menegaskan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, seakan-akan tidak ada artinya lagi. Idealnya, ketika Sumpah Pemuda dijadikan sebagai kebanggaan sekaligus semangat nasionalisme, maka pemerintah dan semua pihak yang terkait harus berkomitmen untuk menjunjung tinggi Bahasa Indonesia.

Ironi di Negeri Sendiri

Satu hal yang nyata dan dirasakan betul oleh masyarakat adalah, bahwa seseorang yang piawai berbahasa Indonesia tidak membuat mereka tenang dalam karir dan pekerjaan. Sebaliknya, orang yang menguasai bahasa Inggris akan mudah dalam karirnya. Mungkinkah ini akibat globalisasi? Tapi apakah kita harus menyerah dengan globalisasi yang justru kemudian mengorbankan bahasa sendiri? Tentunya tidak demikian.

Pemerintah harus mencari program dan aplikasinya agar siswa yang pandai dalam pelajaran bahasa Indonesia mendapatkan karir yang baik selepas pendidikan mereka. Jika perlu, hendaknya pemerintah menyediakan program beasiswa khusus bagi mereka yang meraih nilai tinggi dalam pelajaran Bahasa Indonesia.

Di sisi lain, masyarakat kita sendiri justru lebih merasa bangga jika anaknya pandai dalam pelajaran Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. Banyak orangtua yang meminta anaknya untuk kursus tambahan Bahasa Inggris. Tidak hanya itu, orangtua yang mampu cenderung lebih memilih anaknya bersekolah ke sekolah yang bertaraf internasional, salah satu tujuannya tentu saja untuk menunjang kemampuan berbahasa Inggris anak-anak mereka.

Pemerintah bisa saja berdalih bahwa keberadaan sekolah-sekolah bertaraf internasional itu demi meningkatkan mutu pendidikan nasional. Namun, mengapa Bahasa Inggris yang justru dijadikan unggulan. Ke mana Bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa?

Membudayakan Bahasa Indonesia

Boleh jadi, salah satu penyebab lemahnya kemampuan berbahasa Indonesia yang melanda anak-anak muda bangsa ini adalah semakin kacaunya anak-anak kita dalam “memperlakukan” bahasa Indonesia. Fenomena bahasa gaul, atau bahasa alay, yang “dianut” oleh sebagian generasi muda di kota-kota besar di Indonesia justru membuat bahasa Indonesia semakin amburadul.

Bahasa alay memang “masih” Bahasa Indonesia, namun digunakan dalam bentuk yang jauh dari baku, bahkan terkesan seenaknya dan melecehkan Bahasa Indonesia itu sendiri. Bahasa alay ini jamak digunakan saat mengirim pesan (sms), chatting, menulis status di jejaring sosial, bahkan sering pula digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Manusia menciptakan budaya karena bernilai bagi kehidupan. Lantas, bagaimana caranya kita membudayakan Bahasa Indonesia? Ya, kita harus menjadikan Bahasa Indonesia bernilai bagi kehidupan. Tentu saja semua pihak harus meyakinkan kepada anak-anak bangsa bahwa Bahasa Indonesia lebih penting sebagai jatidiri bangsa, bukan hanya sekadar untuk meraih karir atau pekerjaan.

Kebudayaan suatu bangsa berkait erat dengan peradabannya, dan peradaban sebuah bangsa dikenal karena bahasanya. Dengan demikian, bertahan atau tidaknya sebuah peradaban tergantung pada masyarakat dalam menjaga bahasanya. Semoga Bahasa Indonesia tidak lagi (diposisikan) menjadi tamu di rumah sendiri.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com

Sumber Foto: http://spektrumku.wordpress.com


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 3.170

Opini lainnya