Register | Member login
Opini
11 Mei 2011

Tengku Amir Hamzah, Korban Internasionalisasi


Oleh Hudjolly, M.Phil

Kebanggaan merupakan dorongan utama untuk mencintai, menghargai, dan menentukan jatidiri. Rasa bangga tidak ubahnya mekanisme mempertahankan diri dari pengaruh yang membuat kita jemu. Kita menjadi jemu karena tiada hal yang menarik perhatian atau sesuatu yang patut dibanggakan. Kita jemu membaca sastra anak negeri, tidak bangga terhadap kecendekiaan putra bangsa. Kita bangga jika masyarakat internasional memuji, bangga jika dianggap sama dengan standar yang mereka pakai.

Itulah secuil problem kebanggaan kita. Penyakit pikir yang diidap akut oleh masyarakat intelektual: rendahnya penghargaan dan kebanggaan atas karya intelektual anak negeri. Tidak boleh jemu menyeru betapa bahaya latah internasionalisasi telah merambah segala bidang, tiada lagi tempat berpijak bagi karya cemerlang anak negeri. Salah satu korban dari sekian banyak korban penyakit ini adalah Tengku Amir Hamzah (TAH). Sungguh menggelikan apabila TAH justru populer dan mendapatkan apresiasi tinggi di Malaysia, sajak-sajaknya wajib dihapal oleh anak SD sampai pelajar SLTA. Bahkan di sejumlah negara pun mulai muncul komunitas TAH. Tapi kenapa di Indonesia malah tidak populer?

Krisis Kebanggaan

Lihatlah political will pemangku kebijakan dan gereget masyarakat akademik tanah air. Rasanya menggantang asap memimpikan karya TAH bercokol di kurikulum nasional, sebab keputusan itu membutuhkan energi besar, penguasaan sajak TAH oleh para pendidik, dan sebagainya. Dunia akademik yang mendesain pendidikan nasional justru tidak memiliki paradigma kebanggaan. Sebelum memulai hal besar, tengoklah hal sederhana seperti kepedulian yang rendah terhadap portal data www.TengkuAmirHamzah.com. Portal ini dibiayai secara tunggal oleh personal. Artinya, negara yang mestinya mensponsori pelestarian dan kajian pemikiran TAH justru memilih bersikap acuh.

Sementara itu, masyarakat dihantui propaganda besar: popularitas tokoh yang disponsori oleh kuasa internasionalisasi. Sejumlah negara telah menyadari hantu itu dan mulai membentuk faksi tandingan, munculah “Nobel” tandingan di Cina, “Pulitzer” tandingan serta kanal tandingan lain. Kemunculan faksi tandingan menandakan adanya sinyal penolakan atas dominasi internasionalisasi. Nobel sebagai bau internasional tidak dianggap satu-satunya puncak prestisius penilaian. Gagasan yang dipasarkan kuasa standar tunggal menemukan tandingan di mana-mana.

Dalam waktu yang tidak lama, masyarakat kita akan dihadapkan pada faksi tandingan melawan faksi dominan. Saat ini faksi dominan menguasai semua wacana sosial-akademik. Intelektual yang dimiliki bangsa ini jika tidak mendapat pengakuan dari faksi dominan, jangan harap mendapatkan popularitas. Amir Hamzah, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Haji Agus Salim, atau Mohammad Hatta adalah segelintir cendekia kelas dunia yang tidak diberi kesempatan mendunia.

Krisis Kebanggaan Bahasa

Bahasa asing diundang untuk menduduki kursi utama di dunia akademik dan menjadi ukuran penentu penilaian status internasional. Itu bisa terjadi karena kita tidak memiliki kebanggaan pada bahasa Indonesia. Peneliti barat mengkaji musik dangdut, mengangkatnya ke status mendunia. Ratusan peneliti sosial antropologi melakukan hal serupa di tanah air ini. Perlahan tapi pasti struktur sosial kita disesuaikan dengan rancang bangun internasionalisasi. Lantaran Amir Hamzah tidak masuk dalam daftar tokoh-tokoh yang menopang baku standar internasionalisasi, maka pemangku kebijakan pun tidak memberikan tempat untuk TAH.

Lantas, kategori apa yang bisa masuk dalam standar itu? Tentu saja pemikiran yang dapat menopang ide internasionalisasi yang pemikirannya tidak berpotensi menghambat pengambilalihan kekayaan negeri-negeri timur, yang tidak menghalangi budaya konsumsi, yang tidak membanggakan jatidiri bangsanya. Tokoh sekelas TAH yang menyulut kecintaannya terhadap tradisi sulit mendapatkan tempat.

Tradisi: Sumber Jatidiri Bangsa

Apakah tiada solusi dan secercah asa? Jawabannya relatif karena yang dapat menjawab adalah masing-masing dari kita. Jika kita mulai membiasakan diri mencari ordinat tandingan dari semua faksi internasionalisasi, maka kita dapat memberikan tempat berpijak bagi para cendekia ibu pertiwi. Bila kita berusaha mempertahankan kedudukan bahasa Indonesia di semua bidang, terutama dunia akademik, maka bahasa Indonesia pun akan dihormati, dipelajari oleh masyarakat dunia. Manakala faksi dominan ingin kepentingannya tetap eksis di tanah ini, mau tidak mau mereka harus menempatkan bahasa Indonesia dan cerdik-cendekia kita setaraf dan sebangun dengan versi mereka. Menguasai bahasa internasional adalah penting, tetapi bukan inti dan standar dari intelektualitas. Bahasa Jepang, India, Jerman, atau Prancis adalah contoh yang menarik dalam kebanggaan bahasa. Kecuali India, negara-negara tersebut tidak terlalu dominan dari segi jumlah, tapi mampu menjadikan bahasa ibu sebagai tuan di negeri akademiknya sendiri.

Wajarlah TAH mendapatkan apresiasi tinggi di Malaysia karena mereka merasa sebangun setaraf dengan kecendekiaan TAH yang melentingkan sastra Melayu sedemikian tinggi. Mereka bangga menjadi Melayu. Kebanggaan semacam itulah yang jarang ditemui di tanah air. Paradigma yang subur adalah asumsi bahwa tradisi dianggap sebagai penghalang menatap masa depan, tradisi dianggap puritan, dianggaplah TAH hanya bagian dari masa lalu. Apabila paradigma itu masih lekat dalam wacana utama kita, sampai kapanpun TAH dan cerdik-cendekia lainnya tidak akan memperoleh apresiasi. Mari kita buat tandingan paradigma tersebut: tradisi adalah sumber jatidiri kebanggaan kita!

__________

Hudjolly, M.Phil, Peminat Kajian Tradisi

Foto: http://puisikabur.blogspot.com


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 2.564

Opini lainnya