Register | Member login
Opini
18 Juli 2010

Berhari Pendidikan di Pusara Penyair Amir Hamzah


Masjid Azizi Langkat

Oleh Mastar Musham

Pembelajaran dan apresiasi sastra di sekolah-sekolah berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Sudah cukup lama keluhan tersebut bergaung di negeri ini.

Sebagai dampaknya, siswa menjadi kurang berminat terhadap segala kegiatan yang beraroma sastra. Bila hal itu berlangsung terus-menerus tanpa ada upaya untuk memperbaikinya, negeri ini akan mengalami krisis minat sastra di masa-masa mendatang. Bahkan dimungkinkan akan terjadi literary lost generation cukup lama yang dapat memutuskan mata rantai penciptaan karya sastra.

Mengantisipasi berkembangnya dampak itu agar tidak semakin meluas, guru bahasa Indonesia harus melakukan sebuah aksi yang dapat meningkatkan apresiasi siswa terhadap pembelajaran sastra di sekolah. Selain memilih metode pembelajaran sastra sebagai ilmu, yang tidak kalah pentingnya adalah mengajarkan sastra sebagai salah satu bentuk kesenian.

Jika pembelajaran sastra dipandang sebagai ilmu, maka aspek yang perlu mendapat perhatian dari guru adalah mengajarkan teori sastra, sejarah sastra dan kritik sastra. Jika pembelajaran sastra dipandang dari sudut pandang kesenian, maka pembelajaran sastra akan berupa penerapan dari pengetahuan sastra yang telah diajarkan itu dalam bentuk praktek mengapresiasi (baca: menghargai, menghayati, mencintai) dan mencipta sastra. Dengan demikian, pembelajaran sastra akan berlangsung menyenangkan bagi siswa dan pemahaman perjalanan sejarah bangsa dapat terhayati dengan baik.

Agus R. Sarjono pernah menyatakan bahwa suatu karya sastra, selain berbicara mengenai sejarah bangsa sejak zaman dahulu, bisa pula memberi perspektif mengenai zaman mendatang. Pastinya, karya sastra adalah anak zamannya. Itulah mengapa sastrawan Indonesia yang terkemuka merupakan anak dan sekaligus orangtua pada zaman mereka.

Membekalkan sastra sebagai seni bagi calon guru bahasa Indonesia pada momen Hari Pendidikan pada tanggal 2 Mei 2010 lalu, STKIP Budidaya Binjai Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, menggelar acara “Mengenang Pelopor Pujangga Baru Tengku Amir Hamzah” di kompleks permakaman Masjid Azizi Tanjung Pura Langkat. Acara yang dipelopori oleh H. M. Yusuf Azis, MM (pihak Yayasan) dan Supiah Purba, S.Pd (dosen sastra), ini diikuti tidak kurang dari 160 mahasiswa semester II, IV, VI, dan semester VIII. Dosen pendamping lainnya yang turut serta, di antaranya M. Ali Sidiqin, SS, Dra. Magdalena, Dra. Agustina, Miswandi, S.Pd, Muham, M.Pd, dan Novianti, S.Pd. Selain berziarah ke pusara Tengku Amir Hamzah, acara juga diisi dengan kegiatan silaturahmi budaya dan baca puisi bersama karya-karya Raja Penyair Pujangga Baru itu.

Di bawah terik matahari menyengat, usai makan siang dan shalat Zuhur bersama, acara digelar di halaman parkir Masjid Azizi di sisi pusara, diawali dengan sepatah kata dari pihak Yayasan Amir Hamzah yang diwakili oleh Saripuddin Lubis, S.Pd. Acara dipandu oleh Sadli Sembiring, berlanjut dengan pembacaan biografi Tengku Amir Hamzah secara puitis oleh Tanita Liasna dan pembacaan puisi “Oh Putra Langkat” karya Supiah Purba oleh Vilestari.

Acara yang didominasi oleh mahasiswa itu berlanjut dengan pembacaan puisi-puisi dan terjemahan Tengku Amir Hamzah yang tertuang dalam antologi Buah Rindu, Setanggi Timur, dan Nyanyi Sunyi. Atraksi pembacaan puisi dilakukan dengan beragam teknik dan kreasi, mulai dari cara pembacaan ala konvensional sampai visualisasi dan musikalisasi.

Meskipun rombongan duduk secara lesehan membentuk lingkaran tanpa menggunakan alas tikar di alam terbuka di sekitar kompleks, pembacaan puisi berlangsung penuh semangat dan bersahaja. Penampilan demi penampilan disambut riuh tepuk tangan oleh pengunjung dan masyarakat yang kebetulan singgah melakukan shalat di Masjid Azizi.

Acara cukup mengesankan itu ditutup dengan sepatah kata oleh Syahran Yusuf, M.Pd (Puket I) dan doa dipimpin oleh Miswandi, S.Pd. Syahran Yusuf berharap agar kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin ke pusara sastrawan-sastrawan Sumut lainnya. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, termasuk pahlawan di bidang sastra.

Sebagai puncak acara, rombongan melakukan ziarah ke pusara Tengku Amir Hamzah sekaligus melakukan tabur bunga. Kendati cukup melelahkan akibat lebih satu jam perjalanan dari Binjai dengan iring-iringan 10 sudako ditambah kegiatan pada hari itu, namun terpancar kepuasan di wajah-wajah mahasiswa karena sukses menunaikan penerapan dari sebagian pengetahuan sastra yang mereka terima di kampus. Tentu saja, pengalaman ini menjadi motivasi dan bekal yang sangat berharga bagi mereka untuk diterapkan kepada siswa bila kelak telah menjadi guru di sekolah.

 

Tentang Amir Hamzah

Tengku Amir Hamzah merupakan sastrawan yang dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru. Amir Hamzah yang juga bergelar Gelar Pangeran Indra Pura, dilahirkan 28 Februari 1911 di Sumatera Timur, keturunan bangsawan Langkat Tengku Pangeran Muhammad Ali dan Tengku Mahjiwa.

Tengku Amir Hamzah kecil, menghabiskan pendidikan HIS dan belajar mengaji di belakang Masjid Azizi Langkat. Kemudian melanjutkan pendidikan MULO di Medan dan Batavia. Semenjak sekolah AMS jurusan Sastra Timur di Solo, kepenyairannya semakin terbentuk. Di kota solo, Amir Hamzah aktif dalam pergerakan kebangsaan menuju Indonesia Merdeka dan terpilih menjadi Ketua Indonesia Muda cabang Solo pada Kongres Indonesia Muda pertama.

Selanjutnya Tengku Amir Hamzah pindah ke Batavia belajar ilmu hukum di Recht Hoge School sampai tingkat kandidat. Bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane, Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru dan mengelolanya, hingga pecah perang dunia kedua.

Keaktifan Amir Hamzah dalam berorganisasi dan kedekatannya dengan kaum pergerakan, membuat Belanda pada waktu itu menjadi gusar. Belanda menyurati keluarganya di Langkat, kemudian oleh pembesar Langkat menjemput Amir Hamzah pulang. Di Langkat beliau dinikahkan dengan seorang putri bangsawan istana, bernama Tengku Kamaliah, kemudian dinobatkan bergelar Pangeran. Dari pernikahannya, Tengku Amir Hamzah memperoleh seorang anak yang diberi nama Tengku Tahura Alautiah.

Pada 29 Oktober 1945 Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah RI untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Belum setahun menjabat, Amir Hamzah ditangkap oleh kelompok front rakyat ketika sedang bergejolak revolusi sosial di Sumatera Timur.

Amir Hamzah dibawa ke Kwala Begumit untuk menghadapi pengadilan kilat ala hukum rimba (hukum pancung) pada 20 Maret 1946. Amir Hamzah pergi menghadap sang Khalik dalam usia 35 tahun. Jenazahnya ditemukan di sebuah pemakaman massal yang dangkal di Kwala Begumit, lalu dimakamkan secara layak di kompleks pemakaman Masjid Azizi Tanjung Pura.

Pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Peristiwa tragis yang dialami Amir Hamzah tidak meninggalkan aib baginya. Atas usulan masyarakat, karena telah mengembangkan kebudayaan, khususnya kesusastraan, Amir Hamzah akhirnya ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional sejak 10 November 1975 berdasarkan SK Presiden No.106/TK Tahun 1975. Selain itu, namanya juga dipakai sebagai nama gedung pusat kebudayaan Indonesia di kedutaan besar RI di Kuala Lumpur Malaysia.

Selama hidupnya, Amir Hamzah telah menghasilkan sekitar 160 karya berupa 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli, dan 1 prosa terjemahan. Karya-karyanya yang terkenal terkumpul dalam antologi Buah Rindu (1941) dan Nyanyi Sunyi (1937). Selain itu, ia menerbitkan pula sekumpulan sajak terjemahan dari negara tetangga seperti Jepang, India, Arab, Persia, dan lain-lain dalam antologi Setanggi Timur (1939) dan terjemahan Bhagawat Gita yang dipetik dari Mahabarata berisi dialog antara Kresyna dan Arjuna.***

 

Mastar Musham adalah penulis, tinggal di Medan.


Sumber berita: analisadaily.com

Sumber foto: tapakkaki.wordpress.com


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 3.852

Opini lainnya