Register | Member login
Berita
15 Desember 2015

Road Show Peluncuran Antologi Puisi Lima Penyair


Para pembicara bedah puisi (Foto: Trasmara)

Yogyakarta, Melayuonline.com – Road Show peluncuran antalogi puisi bertema ‘5 Penyair Mengeja Tanda’ di gelar Sabtu (12/12) malam di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY. Antologi 5 penyair itu adalah Surat dari Yogya (Joko Pinurbo), Teras Mardi (Mardi Luhung), Perempuan yang Melukis di atas Air (Nana Ernawati), Setelah Ingar Bingar (Dhenok Kristanti), dan Cupu Manik Hasthagina (Iman Budhi Santosa). “Ini baru pertama kali kami meluncurkan antologi puisi sekaligus lima,” kata Nana Ernawati dari Penerbit Reboeng yang ditemui Melayuonline.

Menurut Nana, setelah selesai mengadakan road show ini ia berencana menerbitkan antologi puisi penyair Madura sekitar 30-40 penyair. “Penyair Madura itu unik dan memiliki ciri khas tersendiri. Sekarang baru taraf pengumpulan naskah,” ujar penyair Yogya yang aktif melahirkan antologi puisi.

Road show peluncuran antologi puisi diisi dengan pembacaan puisi oleh lima penyair yang bersangkutan dan dibantu oleh Landung Simatupang, Arif Rahmanto, Arimba, Fitri Verawati, dan musik puisi yang dibawakan Ana Ratri.

Lima antologi itu dibedah oleh Prof. Suminta A Sayuti (UNY), DR. Rina Ratih (UAD) dan Narudin, seorang duta bahasa berprestasi 2015 asal Jawa Barat. Rina Ratih dan Narudin membahas puisi dengan teori kritik, sedang Suminta lebih banyak menyoroti kritik dengan gaya Yogya. “Penyair ini menulis puisi tak berdasarkan teori. Puisi merupakan rumah pengalaman penyair yang ditulis sesukanya,” kata Suminta.

Guru besar dari UNY ini menuturkan, menulis puisi itu gampang. Dan kritik bagi puisi di Yogya dilakukan secara terbuka. “Tidak usah ribet dengan konsep teori, tapi atas dasar pengalaman kreativitas,” tandasnya.

Rina Ratih yang membahas puisi Nana Ernawti dan Dhenok Kristianti menilai puisi Nana banyak memuat simbol dan mempertegas pandangan penyair tentang keberadaan perempuan. Bagaimanapun keperkasaan milik pria dan sebagian besar perempuan berada dalam ketidakberdayaan. Sedang puisi Dhenok, menurut Ratih, memiliki nilai rohani dalam hubungannya dengan dunia religius.* (Teguh R Asmara)



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 451

Berita lainnya