Register | Member login
Berita
19 Nopember 2015

Sastra Lisan dalam Perspektif Kekinian yang memberdayakan


Mahyudin Al Mudra (berdampingan Dr. Novi) tengah presentasi

Yogyakarta, Melayuonline.com – Rabu 18/9 kemarin sejumlah mahasiswa Pascasarjana Jurusan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB-UGM) tampak memenuhi ruang pertemuan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta. Kedatangan mereka untuk mendalami sastra lisan dengan pendekatan antropologi. Menurut Dr. Novi Siti Kussuji Indriastuti, M.Hum, dosen Jurusan Sastra FIB-UGM, selama ini sastra lisan hanya dipandang sebagai karya sastra lama yang tidak memiliki tendensi positif bagi masyarakat. Karya sastra hanya dianggap sebagai pelengkap dan hiburan semata.

“Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas dan merasakan hal yang berbeda dengan ketika mendapatkan kuliah di ruang kelas. Kami berharap, dengan model pembelajaran seperti ini, sastra lisan akan lebih menarik dengan perspektif yang lebih berkembang. Sastra lisan bisa dikaji dari sudut kebudayaan (antropologi) ataupun sejarah,” kata Dr. Novi.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13:00 wib ini diisi oleh dua pemateri, yaitu Mahyudin Al Mudra, SH., MM., MA. dan Bahaudin S.Sn., M.Hum. Pak MAM, sapaan akrab Mahyudin Al Mudra, yang sekaligus ketua dan pendiri BKPBM, menyampaikan sastra lisan merupakan ekspresi kebudayaan yang disebarkan secara turun-temurun. Bersifat komunal, mengandung nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Sastra lisan bisa berwujud dongeng, legenda, mitos, dan sebagaianya. Sastra lisan juga merupakan karya sastra yang lahir dari masyarakat tradisional, menggambarkan budaya lokal yang anonim. Sastra lisan memiliki corak yang beragam, yaitu cerita, bukan cerita, dan tingkah laku (drama, pertunjukan dll).

Salah satu contoh sastra lisan adalah mitos. Mitos adalah cerita tentang sesuatu yang bersifat simbolik dan memiliki kecenderungan lebih ke arah negatif. Dalam mitos bisa berisi tentang asal usul alam, asal mula nama tempat, cerita kepahlawanan, dan lain-lain, yang berfungsi sebagai pengajaran/pengetahuan, alat pengendali prilaku sosial, nasehat moral, pemberian makna terhadap berbagai persoalan hidup dan ekspetasi. Di alam modern, mitos juga dapat ditemukan dalam prilaku masyarakat atau kalangan tertentu yang memandandang secara berlebihan pada sosok pemimpin atau bahkan pada sebuah perusahaan besar.

Sementara itu Bahaudin menyampaikan materi dari sudut pandang historis. Ia menyampaikan bahwa tradisi lisan selain sebagai sebuah karya juga memiliki fungsi yaitu dokumentasi, media untuk mentransfer memori masa lalu ke masa kini, membangun legitimasi dan bentuk ekspresi intelektual.  Menurutnya, tradisi lisan diposisikan sebagai repersentasi dari kenyataan yang ada dalam masa lalu dari masyarakat pendukungnya.

Acara ini berlanjut dengan diskusi yang menarik dan memberikan pemahaman mengenai pentingnya sastra lisan dalam kekinian yang konstektual dan realistis. Berbagai pertanyaan terlontar dari para mahasiswa, seperti tentang mitos, bagaimana memotivasi pengubahan mitos dari yang bersifat negatif ke positif, apa korelasi tradisi lisan sebagai budaya dan sejarah, dan sebagainya.

Dalam arus masyarakat modern mitos harus dimanfaatkan secara cerdas untuk menunjang proses kehidupan manusia. Misalnya, dijadikan sebagai sarana pendukung pariwisata, didokumentasi dalam bentuk buku bacaan yang menarik untuk dijual, pengembangan penelitian dalam pendidikan tinggi, dan sebagainya.  Dalam perspektif lain, tradisi lisan yang berawal dari suatu kebudayaan saat ini tidak hanya sekedar dianggap sebagai cerita, akan tetapi dapat dijadikan bahan acuan sejarah dengan bukti-bukti yang menunjang, tentunya. *(oki koto)



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 486

Berita lainnya