Register | Member login
Berita
07 Juni 2011

Bahasa Membentuk Indonesia?


 

Oleh Hudjolly

Dari dunia hiburan sampai akademik, dunia politik sampai pentas keagamaan, bahasa Indonesia sudah tidak dapat menguasai arus utama, semesta bahasa, paradigma hingga penggunaan istilah-istilahnya. Peran besar Tengku Amir Hamzah (TAH) dan Raja Ali Haji (RAH) seharusnya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Pendahuluan

Menteri Pendidikan Nasional, M. Nuh, pernah berpesan: “Karena bahasa dapat mati, maka kita perlu merawatnya dengan baik. Jangan sampai bahasa menemui ajalnya!” Keresahan tentang penggunaan bahasa Indonesia memang mulai dirasakan di berbagai bidang. Sebagian kalangan menyebut keadaan tersebut sebagai krisis bahasa Indonesia. Benarkah bahasa Indonesia mengalami krisis? Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang masih muda, jika benar ada krisis penggunaan bahasa Indonesia, tentu saja bisa mengakibatkan bahasa Indonesia terancam mati lebih dini.

Dari dunia hiburan sampai akademik, dunia politik sampai pentas keagamaan, bahasa Indonesia sudah tidak dapat menguasai arus utama, semesta bahasa, paradigma hingga penggunaan istilah-istilahnya. Dari hal-hal sederhana, seperti jenis-jenis tugas kerja semisal art director, stage manager, lighting, make up artist, penggunaan istilah asing lebih mewarnai cara pikir dunia yang dimaksud. Bahasa komunikasi yang dipakai dalam penampilan isi hiburan juga dipengaruhi “comotan” paradigma asing. Terlebih lagi di dunia teknologi, semua alat bantu yang dipakai dalam pengoperasian teknologi menggunakan nama-nama asing berikut pula semesta yang melingkupi penggunaan teknologi tersebut, hampir sebagian besar merupakan hasil “cangkokan” dari pengaruh budaya internasionalisasi. Di tengah internasionalisasi yang bersulih rupa sebagai globalisasi, perdagangan bebas, standar internasional, dikotomi tradisionalitas dan modernitas, pembaratan kebudayaan, akumulasi kapital transasional, dan lain sebagainya, akankah itu semua menyulut kematian bahasa Indonesia?

Paradigma kebudayaan atau semesta pikiran suatu masyarakat akan mempengaruhi bahasa yang dipakai. Paradigma berarti keseluruhan konteks, baik sosial dan psikologis pada saat sebuah makna (bahasa) dibentuk. Semesta merupakan totalitas keadaan yang menyebabkan definisi, pemahaman, makna tersusun dan dipahami seseorang. Dalam bidang sains teknologi, paradigma dan semesta pikiran ”Barat” sangat mendominasi, karena mereka adalah para pelopornya. Suasana belajar sebagian besar intelektual Indonesia juga berada dalam paradigma non Indonesia dan itu berlangsung sejak pasca kolonialisme. Cara berpikir, tradisi, pembentukan makna dan kebudayaan dilakukan dalam semesta non Indonesia. Putra-putra bangsa yang menjadi intelektual kelas dunia, nyaris tidak pernah dijadikan contoh rujukan pemikiran dalam pembelajaran sains. Membincangan pemikiran para tokoh dunia atau non Indonesia sama dianggap sebagai kebanggaan. Demikian pula dalam hal bernegara, semua modus dan sistem mengadopsi paradigma non Indonesia.

Tidak mudah menemukan kosakata yang sepadan untuk chatting, dan seabrek kosakata lain dalam teknologi komunikasi. Sebenarnya, masyarakat dapat “mengindonesianisasi” teknologi dengan cara menciptakan semesta Indonesia dalam dunia teknologi bukan hanya mengalihbahasakan istilah. Urusan pemakaian kosakata non Indonesia untuk diserap ke dalam bahasa Indonesia perlu didorong lebih kencang, termasuk penggunaan kosakata daerah. Melalui jalan itu, semesta bahasa Indonesia dapat menelan dua dunia sekaligus: (1) Internasionalisme yang dipelopori bahasa Anglo Saxon dan; (2) Merangkum segala macam pardigma kedaerahan menjadi “etnosialinguistik”. Penggunaan kosakata memori (dari memory) adalah contoh penyerapan internasionalisme.

Etnosialinguistik: TAH dan RAH

Pembentukan etnosialinguistik tidak boleh berhenti pada pembentukan-penyerapan kosakata saja. Sekali lagi, penyerapan semesta-paradigma Indonesia sangat diperlukan dalam pembentukan bahasa, sains, teknologi, politik-pemerintahan yang telah terinternasionalisasi. Tujuannya agar identitas keindonesiaan di semua bidang tersebut tidak luntur. Jepang adalah contoh yang tepat dalam proses penyerapan di bidang sains. Semua orang yang masuk ke Jepang harus merasakan paradigma bahasa Jepang, hidup dalam semesta Jepang, dan “menjadi orang Jepang”. Sebaliknya, ketika orang asing masuk ke Indonesia, semua lembaga -terutama barisan akademik- berlomba untuk menginternasional diri sambil ramai-ramai melepaskan semesta Indonesia, bukan menyulap yang internasional itu menjadi Indonesia. Yang etno hanya ditempatkan sebagai tontonan, daya tarik, atau arena melepas penat. Jadilah hal-hal yang berbau Indonesia malah dianggap sebagai hal yang serba santai dan dinomorduakan dalam pergaulan internasional.

Masyarakat Indonesia berhutang besar pada barisan awal Pujangga Baru, sebut saja: Tengku Amir Hamzah (TAH) dan perlu pula menapaktilasi peran Raja Ali Haji (RAH). Kedua tokoh tersebut berbeda zaman, namun keduanya telah menghasilkan etnosialinguistik dan Indonesianisasi. RAH hidup dalam semesta kerajaan Melayu, tokoh sentral di pusaran kerajaan, bangsawan, dari sisi genetika ini RAH dapat disebut bagian dari aristokrat. Tetapi, primordialitas (Islam-Bugis-Linggi-Keling-dst) di sekitarnya diserap RAH dalam proses “pemelayuan” sebagaimana terlihat dalam karya Tuhfat al Nafis, Bustanul Katibin, dan Tsamarat al Muhimmah. Keberhasilan penyerapan itu meniscayakan pembentukan identitas komunitas yang lebih besar, sehingga Belanda menjadikan identitas tersebut sebagai patokan komunikasi formal di wilayah kekuasaannya. Itulah cikal bahasa yang mempersatukan, membentuk semesta identitas yang lebih besar, dari semesta Melayu-Islam-Bugis menjadi satu menu, tidak ada etnositas yang saling mendominasi.

Sedangkan Tengku Amir Hamzah (TAH) hidup di masa menjelang terbentuknya dan pada periode awal negara Indonesia. Latar belakang pendidikan Belanda semenjak kecil memudahkan TAH untuk bergaul dalam wacana internasional. Demi mendongkrak reputasi ke wacana internasional, TAH dapat secara latah menyajikan sajak dan prosanya ke bahasa Belanda atau memasukan semesta Holanda dalam prosa lirisnya. Tapi TAH mengambil jalan Indonesianisasi dari ramuan semesta sastra Asia Timur plus sastra modern (Belanda) yang dipelajarinya. Sajaknya juga tidak bergayut suasana apolijia primordial.

Masih berderet nama-nama yang berhasil mengindonesianisasi semesta keahliannya seperti Soekarno, M. Hatta, Habibie, Hembing, Koentjaraningrat, Kuntowijoyo dan lain sebagainya. Semakin banyak bidang, semakin banyak tokoh yang dapat dipetakan. Ekonomi kerakyatan yang dijajakan oleh Hatta saat republik masih belia, kini harus berhadapan dengan internasionalisasi ekonomi: globalisasi. Indonesianisasi yang dilakukan TAH kini sedang berhadapan dengan latah internasionalisasi bahasa di segala sektor.

TAH menyerap paradigma sajak modern (Eropa) dan memasukkannya ke semesta “Indonesia”. Pakem “alih teknologi” berganti menjadi impor teknologi, identitas Melayu-Indonesia perlahan tapi pasti bertukar liberal, Melayu menjadi puritan-tradisional-etnik. Indonesia menjadi negeri pengekor. Yang tradisional dianggap puritan, segala tuah masa lalu ditempatkan sebagai “objek kajian” yang diletakkan dalam wadah etalase modernitas. Kebudayaan Melayu menjadi asing di tanah Melayu, budaya sendiri dianggap asing.

Internasionalisasi

Menggunakan bahasa asing dan mengalihkan istilah teknis sains-teknologi ke dalam bahasa Indonesia tidak berarti telah meng-indonesia. Lihat saja yang telah dilakukan RAH, membawa Islam yang Arab-Turki itu ke dalam Jawi-Melayu. Semesta Islam berpadu dengan paradigma Melayu. Itulah yang diperlukan ketika berjalan beriringan antara jatidiri Indonesia dengan internasionalisasi berbagai bidang. Menguasai bahasa asing dan penguasaan wacana internasional adalah Keterampilan, bukan inti dari intelektualitas itu sendiri. Kepercayaan ini tidak dimiliki dan ditanamkan dalam semesta keindonesiaan masa kini.

Kebudayaan Indonesia yang berlimpah menjadi objek bagi kajian manusia dan kebudayaannya. Segala format etnik dialihkan ke formulasi asing, struktur identitas kebudayaan diasingkan dari pemiliknya. Namun semua orang mengamini dan mendiamkan proses itu. Usaha mempertahankan adat, ciri khas identitas bangsa hanya dilakukan segelintir orang. Website www.MelayuOnline.com dapat dikategorikan sebagai yang segelintir itu. Identitas kebangsaan Indonesia kian terkikis manakala intelektualitas dijalankan ke arah internasionalisasi.

Perbedaan ‘internasionalisasi’ dan ‘menginternasionalkan Indonesia’ adalah tipis. Internasionalisasi berarti mengubah dan menyesuaikan segala macam pernik dalam negeri agar sesuai dengan “standar internasional”. Perubahan bahasa pengantar akademik adalah contoh dari proses itu. Kemahiran berbahasa internasional berhasil menggeser semesta keindonesiaan. Kemahiran berbahasa Inggris memang cukup penting bagi pergaulan wacana internasional. Tetapi kemahiran semacam itu menjadi tidak urgen manakala dikondisikan untuk menggusur identitas dasar Indonesia dengan identitas ‘standar Internasional’. Ini adalah prinsip mendasar sebagai identitas bangsa. Kebudayaan Indonesia sedang berjalan ke desa buana yang tidak mengenal gotong royong, menjaga marwah, atau musyawarah mufakat, yang hanya dianggap etnik dan dijadikan objek kajian, bukan identitas.

Paradigma pragmatis menggusur karakter kebangsaan. Pembelajar bereputasi internasional mendesain dan mengkategorikan segala macam kebijaksanaan lokal dalam kacamata “standar internasional”, karena kebijaksanaan lokal bernuansa kontra pragmatisme yang menjadi inti dari “standar internasional”. Indonesia dan segala pernik kebijaksanaan lokal yang ada di dalamnya adalah objek yang dihadapkan vis a vis dengan globalitas pragmatis. Keragaman (kebhinekaan) misalnya, menjadi soal pelik yang mengalami problematisasi di bawah kacamata internasionalisasi. Kebhinekaan menjadi hal rumit dan politis.

Seribu Jalan Etnosialinguistik

Ideologi dan identitas negara merupakan ajang paling ramai dalam diskursus internasional. Tetapi, diskursus ideologi dan identitas negara di kancah internasional berhasil diIndonesiakan: Ideologi nasional-karakter berkebudayaan Indonesia. Bukankah perseteruan isme-isme ideologi dari seluruh dunia telah mewarnai diskursus pembentukan ideologi-kebudayaan Indonesia? M. Yamin, Hatta, Soekarno, Kasman Singodimejo, adalah segelintir tokoh yang bergulat dalam wacana internasional (dari Aristotelian sampai Marxian) saat proses pembentukan identitas Indonesia. Semua wacana internasional itu terserap menjadi Indonesia. Sayangnya, ideologi kebudayaan tersebut harus ekstra bersitegang mempertahankan diri dari gempuran internasionalisasi.

Identitas dan karakter bangsa terbaca dari prinsip keadilan sosial (Sila Kelima) yang berkorelasi dengan tegaknya sistem kekuasaan yang adil dan penghormatan pada keragaman (bhineka). Menghormati keragaman berarti menghargai kekhasan (keistimewaan) identitas dan membuka diri untuk bersatu meskipun berbeda haluan (Sila Ketiga). Menghargai identitas kemanusiaan (Sila Kedua) membentuk jatidiri komunal yang lebih luas. Atas dasar musyawarah mufakat (Sila Keempat) status kepemimpinan dan kekuasaan komunal (politik) diuji berdasarkan identitas yang berlaku dalam komunitas.

Identitas tersebut sedang digoyang internasionalisai yang berpusar pada dua hal: Penggusuran Bahasa Indonesia dan Menggubah Status Kepenguasaan Tradisi Negara. Penggusuran bahasa telah dipaparkan di muka. Tradisi negara bersandar pada sistem yang diadaptasi dari masa kolonial ditambah adopsi dari negara-negara yang dianggap sudah mapan. Misalnya, propaganda bahwa “adil-benar” itu berdasar suara terbanyak (eleksi). Suara terbanyak itulah varian dari standar internasional. Ketika suara terbanyak menyatakan internasionalisasi lebih penting daripada Indonesianisasi, maka terjadilah!

Di beberapa tradisi kebijaksanaan lokal, suara terbanyak tidak serta-merta menjamin keadilan dan menjustifikasi kebenaran. Mayoritas tidak meniscayakan adanya jaminan kebhinekaan bagi kaum pinggiran, tiada jaminan internasionalisasi akan setia pada prinsip-prinsip umum yang menghargai marwah masing-masing anggota desa buana. Internasionalisasi tidak boleh menjadi standar absolut di tanah yang memiliki tuah, sirri, aji surasa. Sebaliknya, setiap penyerahan jatidiri bangsa ke internasionalisasi berarti menyertakan unsur ketundukan/kerelaaan dari pihak-pihak yang akan diinternasionalkan dan meleburkan kebudayaan lokal ke kebudayaan global. Dan membuka peluang bagi pihak-pihak yang akan menanamkan budaya internasional.

Di seantero tanah Melayu terpendam suatu sistem identitas yang khas, misalnya kekuasaan dan keterpimpinan didasarkan pada kerelaan rakyat untuk diperintah, bukan kontestasi calon pemimpin dalam eleksi. Masyarakat Sulawesi, dahulu, menyerahkan daulat kepemimpinan pada To-Manurung, sosok yang dianggap berkualifikasi memimpin tanpa konflik. Masyarakat Jawa menyerahkan kekuasaan pada Satria-Pinandhita, si manusia berkualifikasi pemimpin yang sanggup menciptakan harmonisasi antar komponen yang dipimpin. Masyarakat Papua menyerahkan kepemimpinan pada Anim-ha, orang yang memiliki kualifikasi kepemimpinan, kuat sanggup menjaga identitas relasional internal dan eksternal masyarakat yang dipimpin. Semuanya bermuara pada kerelaan keterpimpinan. Kepemimpinan itu diserahkan oleh masyarakat kepada orang yang dianggap layak untuk memimpin.

Spirit penyerahan kekuasaan semacam di atas menjadi puritan di hadapan internasionalisasi tradisi negara. Pemimpin hanyalah penerima kerelaan taat si rakyat. Sistem-sistem indejenius sudah dibangun apik di jagat Melayu, berbentuk perangkat operasional (etika) yang memandu bagaimana seseorang bersikap (menjaga tuah) menyusun aksi individual pada suatu kontestasi sosial atau jabatan (menegakkan marwah), inilah yang diwujudkan dari kehadiran abdi dalem, para pemangku adat, para tetua adat, kepala suku.

Kesadaran berbhineka berkelindan dengan praksis keadilan sosial. Karena tidak ada pembedaan perlakuan rivalitas-lawan, maka kesamaan adalah hal yang dapat dirasakan (bersatu). Perikemanusiaan dikedepankan sehingga tiap komunitas tidak menonjolkan diri lewat manuver. Seperti orang Dayak Punan yang rela menyerahkan penyelesaian sengketa hak milik lewat upacara Betanung yang dipimpin tetua adat: simbolisasi mekanisme keadilan yang lugas dan transparan. Pemimpin bertindak sebagai pemelihara, bukan pemilik tujuan. Bukankah spirit ini yang lolos dari sistem standar internasional bernama adu suara.

Penutup

Indonesia adalah bangsa besar dan memiliki keberbedaan kebudayaan yang ika. Ini pula yang dipuji oleh Obama bahwa tak selayaknya menenggelamkan keindonesiaan dengan latah internasionalisasi. Aksi TAH dan RAH di ranah praksis sosial-kebudayaan, dan para perumus identitas negara di medan kekuasaan, merupakan contoh-contoh bagaimana bergulat dengan wacana internasional tanpa kehilangan identitas Indonesia. TAH berani memulai sajak modern dengan ‘sajak Indonesia’, RAH menyerap semesta Islam ke dalam paradigma Melayu. Kini pergulatan wacana semacam itu terancam tidak dapat dilakukan karena intelektualitas telah distandardisasi ke dalam baku internasional. Dari sinilah lonceng kematian bahasa Indonesia akan berdentang karena Bahasa Indonesia bukan bahasa internasional!

Menguasai keterampilan berbahasa internasional tidak dapat dikesampingkan. Penggunaan bahasa komunikasi keseharian boleh saja menyerap kosakata asing dan daerah sebanyak mungkin. Pembakuan bahasa cukup diterapkan dalam konteks yang bertujuan tertentu, seperti penulisan akademik, komunikasi di ruang publik dan di ruang formal. Kamus bahasa Indonesia cukuplah menjadi pengantar makna bahasa, karena makna bahasa selalu berubah sesuai parole dan semesta yang menyusunnya. Yang diperlukan membangun semesta kebudayaan Indonesia di semua ranah, menjadikan Identitas bangsa sebagai harga yang tidak boleh digusur oleh dalih internasionalisasi. Pengguna bahasa Indonesia harus bangga menggunakan bahasa Indonesia dan tidak menempatkan keIndonesiaan sebagai objek untuk didistorsi atas nama standar internasional.

Meminjam sajak Hanya Satu” karya TAH, berikut gambaran terkini Indonesia yang lintang pukang terhantam badai internasionalisasi. Hujan globalitas meruntuhkan banyak sendi, meremukkan kecendekiaan para intelektual yang terbang gagap dan duduk terjatuh ikut mendayukan internasionalisasi segala bidang. Ke manapun wajah dihadapkan, internasionalisasi itu seperti air yang merebak naik merembes ke setiap tempat yang telah tumbang bungkar pokok purba identitas kebudayaannya yang dulu kokoh.

Masyarakat yang merasakan kegetiran tumbangnya pokok purba identitas itu hanya bisa berteriak meskipun suaranya tenggelam karena gegap gempita globalitas yang menggelapkan kesemestaan Indonesia ditambah guruh internasionalisasi yang menjadi lidah api menjulang tinggi membakar karakter kebudayaan bangsa.

Hanya segelintir orang-orang yang mau naik jung untuk membaca tudung kebudayaan masa kini yang diamuk gelombang. Mereka yang merindu Indonesianisasi memerlukan Nuh-Nuh yang menyeru kembali akan akar identitas pohon kebudayaan, berkasih-mesra sepasang dua entitas kekasih: internasionalitas dan keIndonesiaan. Menumbuhkan identitas karakter bangsa yang bebas lepas lelang lapang di tengah gelisah derap internasionalisasi. Swara sentosa Indonesia meski harus tetap berkumandang di ufuk desa buana.

Hanya Satu

Timbul niat dalam kalbumu
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak
Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gegap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi
Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Di tengah gelisah, swara sentosa

Makna kebudayaan di atas merujuk pada definisi kebudayaan yang luas. Isi kebudayaan merupakan perpaduan unsur-unsur budaya universal yang terdiri dari bahasa, teknologi, sistem mata pencarian hidup (ekonomi), organisasi sosial, sistem pengetahuan, religi, dan kesenian (Malinowski,1944). Batas kebudayaan menurut Koentjaraningrat yaitu wujud kebudayaan sebagai kompleksitas gagasan, konsep, dan pemikiran manusia, kompleksitas aktivitas dan kompleksitas kebudayaan sebagai benda (Koentjaraningrat dalam Alfian, 1985: 100-105).

Sebagai bangsa, aksi kanibalisme sesama wujud kebudayaan (internasionalisme memangsa Indonesia) tidak boleh dibiarkan. Internasionalitas masih bisa bersanding jalan bahkan saling menopang sebagaimana dilakukan pusat-pusat dokumentasi kebudayaan yang menopang-menjaga aset kebudayaan. Teknologi yang notabene berbasis bahasa dan semesta asing di satu sisi juga memudahkan penghadiran identitas Indonesia dalam wacana internasional. Bahasa itulah yang menyatukan manusia, bahasa Indonesia telah membentuk Indonesia biarkan ia membentuk masyarakat internasional di desa buana, ini bukan suatu keburukan, tapi anugerah. Untuk Indonesianisasi segala produk budaya desa buana, akar kebudayaan penduduknya harus menancap kuat di tanah pertiwi. Bagaimanapun juga tumbuhnya desa buana berikut kecanggihan dan istilah asing teknologi tetaplah ia sebagai bagian dari produk kebudayaan manusia. Selamat berkreasi bahasa-budaya.

Hudjolly, Peminat Kajian Tradisi

Referensi:

Malinowski, B. 1994. A Scientifcis Theory of Culture and Other Essays. Chapel Hill, University of North Caroline Press.

Koentjaraningrat, 1985. “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional”, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan. Jakarta, Gramedia.

www.tengkuamirhamzah.com

www.rajaalihaji.com



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 5080

Berita lainnya