Register | Member login
Berita
17 Maret 2011

Memetik Buah Rindu Tengku Amir Hamzah


 

Oleh Hudjolly, M.Phil

Tengku Amir Hamzah, memiliki nama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera, lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, tanggal 28 Februari 1911 dan wafat di Kuala Begumit dalam suatu tragedi kematian yang tragis pada tanggal 20 Maret 1946. Amir Hamzah meninggal dunia saat berusia 35 tahun. Sebagian peneliti menyebut kematian Amir Hamzah sebagai korban revolusi sosial di era awal kemerdekaan.

Pendahuluan

Lahir dari lingkungan keluarga bangsawan Melayu di Kesultanan Langkat membuat Tengku Amir Hamzah akrab dalam suasana alam sastra kebudayaan Melayu. Agakya, lingkungan inilah yang mempengaruhi minat Amir Hamzah pada dunia sastra, terutama sastra Melayu. Tengku Amir Hamzah adalah seorang sastrawan “pra Indonesia” yang oleh sastrawan “periode Indonesia” seperti HB Jassin dikelompokkan dalam Angkatan Pujangga Baru.

Meskipun berasal dari kalangan bangsawan berkultur Melayu, tetapi tidak seluruh corak sastra Amir Hamzah dipengaruhi oleh sastra Melayu. Memasuki usia remaja, Amir Hamzah menyelesaikan masa belajarnya di Jawa, di sekolah menengah (MULO) Medan dan pindah di MULO Jakarta, Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo, lantas kembali lagi ke Jakarta di Sekolah Tinggi Hukum.

Semasa studi di AMS Solo, Amir Hamzah menulis sebagian besar sajak-sajak pertamanya. Latar pendidikan sekolah di Tanjung Pura yang menggunakan bahasa Belanda dan sekolah menengah di Jawa serta kegiatan pergerakan di Solo membuat horison pengetahuan Amir Hamzah semakin kaya dengan perpaduan kebudayaan modern (Eropa), kebudayaan Jawa, bahkan secara umum kebudayaan Asia. Horison perjumpaan kebudayaan dalam diri Amir Hamzah dapat dilihat dari karya Buah Rindu (ditulis 1928-1935) yang memadukan syair Melayu dalam sajak Eropa. Tentu saja ini penilaian yang bersifat mimetik. Penilaian mimetik yaitu pendekatan kritik sastra dalam pandangan semesta pemikiran yang melingkupi kelahiran sebuah sastra (Teeuw, 1984:50).

Yang Acak dan Yang Teratur

Di dalam perpaduan syair Melayu dan sajak Eropa tentu saja terdapat persesuaian, baik makna internal teks atau makna eksternal teks. Makna internal menyangkut penyerapan kata-kata yang dijadikan isi sajak atau kata yang dijadikan perumpamaan untuk mengantarkannya menuju isi sajak. Seperti petikan Buah Rindu: //Dikau sambur limbur pada senja//, memadukan metafor alam dan keindahan manusia dalam satu larik. Persitegangan antara suasana indah yang digambarkan melalui pesona-pesona alam tetapi membalut resah nan sepi kerinduan sang penyair. Indah yang membalut sepi, sepi yang bersabut keindahan.

Selain itu kesemestaan sebuah karya selalu memunculkan persitegangan dari berbagai macam sistem, hirarkis dan hubungan-hubungannya dalam suatu relasi sosial politik, atau relasi kelas maupun relasi kemanusiaan. Teeuw (1984:110-115) memberi identifikasi ketegangan yang kompleks dalam suatu karya sastra semacam itu sebagai “konvensi dan invensi”. Sifat konvensi dan invesi tersusun dalam relasi yang tidak stabil. Ketegangan dalam teks sebagaimana dimaksud Teeuw itu tidak hanya berhubungan dengan sistematika teks atau hirarki kebahasaan, tetapi meluas pada pemaknaan yang melingkupi pembentukan teks dalam karya sastra.

BUAH RINDU (1)

Dikau sambur limbur pada senja
Dikau alkamar purnama raya
Asalkan kanda bergurau senda
Dengan adinda tajuk mahkota.

Di tuan rama-rama melayang
Di dinda dendang sayang
Asalkan kanda selang-menyelang
Melihat adinda kekasih abang.

Secara eksternal, ketegangan konvensi dan invensi merupakan ketegangan dunia di luar teks bahasa tulis yang dimasukkan dalam teks sajak sebagaimana nampak dalam sepenggal Buah Rindu di atas. Dunia luar merupakan teks yang living, hidup sedangkan teks sajak merupakan salinan dari teks dunia. Apa yang dimaksud dengan “dunia luar” adalah kenyataan dunia yang dipahami manusia sebagai teks yang belum ditandai ke dalam bentuk bahasa tulis. Ditandai berarti menunjukkan kondisi atau sikap ketertarikan manusia terhadap satu realitas luar dunia. Misalnya “senja”, menggunakan kata senja berarti menandai suasana temaran sore yang diresapi dan diamati dalam keadaan yang sadar. Orang yang tidak mengamati senja tidak merasakan suasana senja secara sadar sehingga suasana senja tidak ditandai dalam pengamatannya atau tidak muncul dalam teks lisan atau tulisan.

Bahasa tulis dinamakan pula sebagai “salinan bahasa”, salinan dunia luar ke dalam bahasa tulis. Apa yang disebutkan dengan bahasa tulis adalah salinan bahasa (Hasan Lubis, 1994:3). Teks—dalam bentuk tulisan cetak miring ini—merupakan nama lain dari kenyataan dunia yang ditangkap oleh pemahaman manusia yang menggelindingkan kata-kata berbuai para pujangga, sastrawan, goresan tajam para pelukis dan pematung dan seterusnya.

Teks dunia terdiri dari lambang-lambang yang setiap lambang menunjuk pada satu dunia tersendiri. Misalnya salinan bahasa “senja” merupakan lambang dari dunia yang sedang berselimut cahaya temaram menjelang matahari terbenam. “Dikau” merupakan lambang orang kedua yang sedang dilibatkan dalam komunikasi seseorang. Horison pengetahuan Tengku Amir Hamzah terhadap teks–teks kompleks di luar dirinya disalin dalam bahasa tulis. Bahasa itu sendiri merupakan lambang-lambang dunia (teks) yang diucapkan secara teratur. Pemilihan “cahaya senja” dan “purnama raya” merupakan metafor keindahan suasana hati yang sepi, tenang namun menyisipkan kegalauan.

Lambang-lambang teks yang dipilih untuk menyusun teks puisi itu berpola menjadi dua kelompok yakni kelompok lambang beraturan dan kelompok lambang tidak beraturan. “Senja” atau “purnama raya” melambangkan suatu kondisi alam yang tidak menunjukkan keberaturan. Keduanya hanya menunjuk pada suatu kondisi atau keadaan alam dalam waktu tertentu. Salinan bahasa “kanda” dan “dinda” menunjukkan lambang-lambang yang memiliki keteraturan, tidak bersifat acak dalam menggambarkan keadaan. ‘Kanda dan adinda’ adalah hubungan tertentu dari dua orang dengan syarat tertentu pula dan menggambarkan sebuah relasi yang dimiliki kumpulan manusia dalam posisinya sebagai kelompok sosial yang memiliki stratifikasi masyarakat.

Secara umum—dalam sudut pandang pembentukan bahasa—semua lambang dunia, bahasa salinan bersifat acak. Tidak ada aturan yang menentukan kenapa situasi temaram sore dilambangkan “senja”, bahwa “kanda“ digunakan untuk menyebut sosok lelaki, “dinda” kepada wanita, bahwa benda bulat bercahaya menggantung di ufuk langit saat malam tiba dinamakan “bulan”, atau “purnama raya” kata Amir Hamzah. Tidak ada penjelasan kenapa ibu jari ditandai sebagai “jempol”. Penetapan kata-kata tersebut muncul secara acak, arbitrer. Tak ada satu kode pun yang menunjukkan tata aturan pelambangan dunia riil ini ke dalam bahasa tulis. Meskipun demikian, secara parodi dapatlah dibuat kesan tentang tata aturan kebahasaan, semisal kata “tahi lalat” yang berarti titik hitam di kulit muka. Jika dinamakan “tahi kuda” tentulah seluruh muka harus tertutup gumpalan titik hitam itu. Jenis-jenis parodi ke-bahasa-an ini cukup beragam motifnya dan cenderung bercorak etnolinguistik. Seperti di Jawa yang menggunakan pemilihan lambang-lambang teks dengan kesamaan nada artikulasi saat diucapkan, misalnya kata “garwa” (istri) berasal dari sigaran (belahan) nyawa. Pada daerah-daerah Sumatra menggunakan pemilihan lambang dengan pantun misalnya “sudah gaharu cendana pula” untuk menyebut orang yang pura-pura tidak tahu.

Sajak-sajak Amir Hamzah memanfaatkan hal-hal yang bersifat acak kebahasaan itu untuk diletakkan pada suatu posisi yang beraturan. Sifat acak diambil dari khasanah kebahasaan Melayu (yang menjadi bahasa Indonesia) seperti selang-menyelang, kelana, jua, laguan, lambang teks dunia yang relatif ‘baru’ bagi perbendaharaan bahasa kala itu. Termasuk penggunaan lambang ‘aku’ dalam bahasa daerah yakni beta tujuannya untuk mendapatkan keteraturan tertentu. Jika tetap menggunakan ‘aku’ nada belakang sajak menjadi sajak yang bebas. Salinan bahasa yang terpilih dalam teks Buah Rindu, mendadak memiliki cukup alasan menempati suatu posisi dalam bahasa lisan dan bahasa tulis. //Di tuan rama-rama melayang// Di dinda dendang sayang//. Melayang dan sayang menghilangkan sifat acak. Keteraturan itu bersandingan pula dalam tatanan //Asalkan kanda selang-menyelang//Melihat adinda kekasih abang//.

Secara alamiah dan internal, sifat bahasa adalah teratur. Keteraturan terletak pada lambang-lambang yang diucapkan—secara teratur—dalam sistem yang dipahami atau sistem yang disepakati komunitas pemakai lambang tersebut. Menggunakan bahasa berarti mengatur penempatan lambang-lambang sedemikian rupa untuk menjadikan orang lain memahami apa yang dimaksudkan si pembahasa. Kenapa keteraturan dalam bahasa demikian penting? Karena bahasa adalah sebuah sistem yang memiliki keteraturan tersendiri (Hasan Lubis, 1994:1).

Keteraturan adalah hukum alam bahasa agar dapat dimengerti oleh orang lain yang terlibat dalam komunikasi lisan. Misalnya tuturan “Amir Hamzah bersekolah di Mulo sejak usia 14 tahun” setiap kata itu menempati tempatnya secara pas dan teratur sehingga bisa dipahami, jika tidak ada keteraturan maka kalimat itu bisa saja tenjadi ”Mulo di bersekolah 14 sejak Amir Hamzah usia”. Namun demikian bukan keteraturan semacam itu yang dimainkan oleh Tengku Amir Hamzah, keteraturan Buah Rindu terletak pada spesifikasi morfem-morfem yang dipilih untuk menempati badan sajak, terlepas dari pola sajak Buah Rindu yang dikategorikan sebagai sajak beraturan. Sajak beraturan yakni bunyi sajak yang menggunakan pola tertentu (teratur) pada akhir baris yang diuntai, misalnya uuuu, aa-uu, ua-ua > Keteraturan itu tidak hanya berkaitan dengan bunyi akhir sajak tetapi pada pemilihan metafor, pemiilihan pengantar dan makna yang dituju.

...............

Ibu, seruku ini laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangisi kelana berhati mutu.

Kelana jauh duduk merantau
Di balik gunung dewala hijau
Di seberang laut cermin silau
Tanah Jawa mahkota pulau ….

Buah kenanganku entah ke mana
Lalu mengembara ke sini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.

Di balik keteraturan itu ternyata tetap menyimpan ketegangan antara lambang-lambang bahasa yang diatur dalam teks sajak. Pengaturan justru menjadikan lambang bahasa harus bersitegang dengan lambang lainnnya. “Buah” dan “kenanganku” merupakan ketegangan, manalah ada pohon yang berbuah kenangan. Buah kenangan itu merupakan ketegangan dua lambang yang dipakai secara imajiner untuk menggambarkan seseorang yang dirindukan Amir Hamzah. Relasi ketegangan “buah kenangan” merupakan salah satu invensi yang dipakai Amir Hamzah. Hampir dapat dipastikan bahwa sajak, puisi selalu mengandung invensi yang berasal dari imajinasi penyair. Invensi ini menjadi salah satu kekuatan bahasa puitik, sajak, dan memudahkan penggambaran teks dunia ke dalam teks sajak/syair/tulisan. Tetapi penempatan invensi haruslah sesuai dengan citarasa dan tujuan makna yang dibahasakan dalam sajak itu. Pemilihan lambang-lambang arbitrer yang disatukan atau digubah menjadi kata invensi juga tidak bisa dilakukan secara acak, minimal ada keteraturan bunyi dan lebih tepat memiliki keteraturan makna, misalnya “tanah jawa mahkota pulau”.

Konvensi dan Invensi

Istilah invensi (invention) diserap dari Bahasa Inggris memiliki makna hasil dalam penemuan, ciptaan, ikatan njempol, rekaan, atau hasil khayalan. Proses invensi ini terlihat dalam pemakaian beberapa pemeran yang berdialog dengan “aku” dalam sajak Amir Hamzah. pada sajak Buah Rindu setidaknya ada dua peran yang sedang diajak bercengkerama yaitu: ibu dan alam. Ditambah dengan sebuah peran rekaan yang imajinatif sebagai isi khayalan sang penyair, yaitu si buah kenangan. Ada dua kemungkinan untuk menerka siapakah si buah kenangan itu. Ia merupakan kekasih hati yang sedang dirindukan sang penyair ataukah ia hanya sebuah tamsil untuk menunjukkan adanya sesuatu yang hilang dari sanubari si “aku” dalam sajak Amir Hamzah.

Di sini, antara si “aku” dan Amir Hamzah tidak satukan terlebih dahulu. Sebab menyamakan si “aku” dalam sajak sebagai Amir Hamzah sendiri membutuhkan analisa konteks sosial. Apakah Amir Hamzah memang tengah merindu pada seseorang yang dicinta semasa kanak-kanak di Tanjung Pura yang kini tidak lagi memperdulikan dirinya di perantauan? Ataukah ia sedang membangun invensi tentang aktor “aku” yang sedang merindu, sebagaimana tokoh “aku” dalam novel yang tidak sama dengan si penulis? Ataukah “kekasih yang hilang”i tu merupakan tamsil dari keadaan yang dialami penulis?

Invensi yang menggunakan alam dalam imajinasi “selalu menyendiri” diberitakan dalam rupa-rupa nan indah. Kesendirian ini memiliki suasana yang pas dengan perasaan rindu. Alam yang menawan hati sang perindu diwartakan dalam “gunung dewala hijau” yang dipenuhi nyanyian burung (perkutut). Burung perkutut itu dipilih, ditandai berkaitan dengan suasana perkutut yang penyendiri tidak bergerombol dan cenderung tidak bertingkah berlompatan, termasuk penandaan “sang pemburu” juga diliputi kesendirian. Tidak ada pemburu yang berisik, sekalipun ada kelompok pemburu tindakannya tetap menciptakan kesendirian, sepi. Realitas alam diambil pada bagian-bagian yang dapat menggambarkan suasana sendiri, sunyi nan sublim. Bayangkan di tengah gunung hijau hanya terdengar nyanyian seekor burung perkutut. Itu sebuah kesunyian, tapi bukan kesunyian yang senyap dan hening.

“Kesunyian” agaknya menjadi salah satu gaya invensi sajak yang dipakai Amir Hamzah, selain dalam kumpulan sajak Buah Rindu, gaya sunyi itu sangat kentara dalam kumpulan sajak Nyanyi Sunyi (1937). Gaya merupakan segala sesuatu yang dipilih untuk memberikan suatu ciri yang khas dalam sebuah teks. Dengan adanya gaya yang bersifat khas menjadikan teks itu bagaikan cerminan individu yang sekaligus membedakan satu teks sastra dengan teks sastra lainnya (Luxemburg, dkk, 1989:105). Gaya kesunyian yang menjadi invensi sajak Amir Hamzah—jika menilik kumpulan Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi—telah menjadi kebiasaan (konvensi) sang penyair. Salah satu contoh sajak Nyanyi Sunyi sebagaimana dimaksud di sini diletakkan di akhir tulisan.

................

Ibu, lihatlah anakmu muda belia
Setiap waktu sepanjang masa
Duduk termenung berhati duka
Laksana Asmara kehilangan seroja.

Bunda waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh kembang cempaka
Adakah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda?

Wah kalau begini naga-naganya
Kayu basah dimakan api
Aduh kalau begini laku rupanya
Tentulah badan lekaslah fani
.

Konvensi (convention) setara makna dengan rapat, adat/kebiasaan, perjanjian, atau kaidah/ketentuan. Dengan demikian, ada dua jenis konvensi dalam ketegangan yang dimainkan oleh Amir Hamzah. Pertama, konvensi yang berarti kebiasaan menggunakan lambang-lambang kesunyian. Kedua, konvensi yang berarti pemakaian istilah dalam adat, kaidah suatu adat, peraturan sosial di masyarakat Melayu, misalnya pelambangan “kanda dan dinda”. Kanda-dinda merupakan konvensi adat Melayu yang menunjuk pada pria-wanita yang terikat asmara.

//Ibu, lihatlah anakmu muda belia// juga konvensi yang biasa dipakai oleh adat Melayu yang menunjukkan penghormatan anak kepada ibunya, kedekatan anak dan ibu. Selain konvensi adat Melayu yang dipakai dalam teks sajak, Amir Hamzah tidak ketinggalan memasukan kaidah ketentuan agama. Lihatlah //Aduh kalau begini laku rupanya//Tentulah badan lekaslah fani// merupakan pesan yang biasa dipakai dalam kaidah agama Islam, pesan untuk selalu mengingat bahwa hidup tidak abadi, kehidupan adalah fana dan semu. //Haram berkata sepatah jua// Lambang Haram menunjuk pada kaidah yang berlaku dalam agama Islam, artinya menegaskan larangan. Dalam sajak ini haram bergeser menjadi “sama sekali tidak berbicara, sama sekali tidak meninggalkan pesan”.

(kumpulan sajak Nyanyi Sunyi)

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu.

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati.

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lapar.

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai.

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu — bukan giliranku
Mati hari — bukan kawanku ....

Penutup

Tidak sedikit pengamat sastra yang menempatkan sajak Amir Hamzah sebagai sajak yang berhaluan sufistik, meskipun tidak sedikit yang menentangnya. Agaknya salah satu hal yang menjadikan Amir Hamzah dikategorikan sebagai sastrawan sufistik adalah pemakaian konvensi Islam yang cukup kental dalam sajaknya. Dengan kovensi Islami yang dijadikan ciri atau gayanya itulah, para pengamat menyimpulkan jati diri, watak Amir Hamzah. Gaya bahasa memungkinkan seseorang untuk dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan gaya tersebut (Keraf, 2008:113).

Sungguh sesuatu yang menarik jika relasi konvesi dan invensi yang dimainkan Amir Hamzah dalam sajak-sajaknya didekati secara luas dengan mempertimbangkan latar sosial pada saat sajak-sajak itu ditulis. Konvensi dan invensi menjadi hukum universal yang berlaku dalam semua sajak, siapapun penyairnya dan bagaimanapun latar sosialnya. Mengamati konvensi yang dipakai penyair sama dengan memperhatikan kecenderungan sosial sang penyair. Apalagi dalam sajak-sajak yang berisi kritikan terhadap pemerintah, invensi dan konvensi yang dipakai menggambarkan ketegangan realitas dunia nyata yang membuat galau hati sang penyair.

__________

Hudjolly, M.Phil , Peminat Kajian Tradisi

Email: tembuslangit@yahoo.co.id

Referensi

Gorys Keraf, 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta, Gramedia.

Hamzah, Amir. 1996. Buah Rindu. Jakarta: Dian Rakyat.

Hamzah, Amir. 1996. Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.

Hasan Lubis, 1994, Analisa Wacana Pragmatis. Bandung, Penerbit CV Angkasa.

Luxemburg, dkk, 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Penerjemah Dick Hartoko. Jakarta, Gramedia.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 9073

Berita lainnya