Register | Member login
Berita
25 Juni 2010

Amir Hamzah (III)


Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Amir Hamzah (I) dan Amir Hamzah (II) yang sebelumnya telah dimuat di situs ini.

Oleh AIRANI-MOLITO (L. K. BOHANG)

III

Kasihku
Seperti rumput
Tersembunyi dalam gunung:
Biarpun berbiak raya,
Tiada ketahuan pada siapa.
    Ono No Yoshiki

Bahwa hidup itu tiap-tiap saat senantiasa mengandung rahasia, tak dapat disangkal oleh barang siapa sudah mengalaminya. Rahasia yang demikian terbuka juga di dalam riwayat hidup Amir Hamzah. Tengah menuntut ilmu tengah memuja dewi asmara, datang panggilan kewajiban dengan tiba-tiba. Kewajiban yang berhubungan dengan kaum keluarga, dengan adat istiadat, dan dengan pekerjaan yang harus dijalankan.

Perahu hidup Amir yang selama itu melancar dengan bebasnya, seolah-olah tidak bertujuan, kini harus memilih arah yang menentukan untung malangnya dalam penghidupannya di masa yang akan datang. Tampak di hadapannya dua pulau yang harus dipilihnya. Pada pulau yang sebuah tahu ia apa yang akan ditemuinya, bila perahunya sampai ke situ. Ialah ibunya yang sangat dicintainya, kaum keluarganya, orang sedaerahnya dan pekerjaan yang akan dilakukannya di tengah-tengah mereka. Isi pulau yang sebuah lagi masih diselimuti oleh selubung harapan. Masih terkandung di dalam cita-citanya. Hanya seorang yang ia ketahui benar. Ialah kekasihnya tempat mencurahkan perasaan kalbu muda remaja. Manakah yang akan dipilihnya? Sebagai jiwa seorang pujangga yang tidak tetap oleh sifat penerimanya akan sekalian kenyataan yang datang menyerbu, baik dari alam lahir, maupun alam rohani, bimbanglah Amir Hamzah sebimbang-bimbangnya memikirkan soal hidup yang datang dengan tiba-tiba itu. Ataukah memang sudah diketahuinya lebih dahulu, bahwa yang demikian itu akan menimpa hidupnya? Perahunya dihentikannya untuk beberapa ketika di dalam lautan hidup yang luas lepas itu. Ke manakah ...? Ke pulau harapan yang dialami oleh kekasihnya, tempat mencurahkan isi hatinya yang boleh jadi penuh dengan cita-cita yang meninggi melangit? Pada ketika itu kedengaranlah di dalam kalbunya bisikan kewajiban yang menunggu di daerahnya. Lalu berpalinglah putusannya lagi ke pulau kewajiban itu. Tetapi suara cinta yang murni tidak pula hendak melepaskannya. Seolah-olah membisik: "Mengapakah demikian, kekasih? Mengapakah engkau tinggalkan beta sendirian? Rupanya kekasih mabuk cinta berahi, di saat janji keluar bersama-sama dengan ciuman yang panas nikmat dari mulut kekasih. Lupakah kekasih akan cita-cita hidup yang kita susun bersama-sama di dalam percakapan yang nikmat suci? Lupakah kekasih akan penyerahanku pada saat pertemuan rasa kasih sayang? Lupakah kekasih akan sekalian tempat yang kita kunjungi bersama-sama, apabila sama-sama hendak mencari kesunyian, untuk serah-menyerahkannya? Lupakah kekasih sekaliannya itu? Alangkah banyaknya saat yang suci-suci yang kita alami bersama-sama.

Bersahut-sahutanlah suara kesangsian di dalam kalbu pujangga yang di dalam kebimbangan. Hendak menurut yang satu, suara yang lain kedengaran mendengung-dengung.

Dalam pada itu tampaklah di ruang mata rohaninya  pulau kesunyian yang seolah-olah melambai dia. Pulau itulah rupanya yang akan menjadi tempat persinggahannya, untuk mengambil keputusan. Dengan tidak sangsi lagi perahunya diarahkannya ke sana. Tiba di pulau itu turunlah Amir. Terasa olehnya kesunyian semata sekelilingnya.

Dalam kesunyian itu terbukalah kembali jiwa pujangga, lalu mengalirlah kesan kesunyian yang mengelilinginya.

sunyi itu duka
sunyi itu kudus
sunyi itu lupa
sunyi itu lampus.

Barang siapa yang kerap ditimpa kesunyian yang semacam itu, akan merasa bahwa sifat sunyi yang di atas hanya sebagian yang sedikit dari sifat sunyi yang sebenarnya. Benar dalam kesunyian itu menjelma kembali segala duka yang kita alami di masa yang lampau. Ataupun ada kalanya terasa juga kesedihan yang tidak diketahui dari mana datangnya. Benar juga bahwa sunyi itu kudus adanya. Sebab di dalam kesunyian itu perasaan kita menjadi suci sesuci-sucinya. Dan ada ketikanya juga dalam kesunyian itu kita lupa segala-galanya. Tetapi alangkah banyaknya yang lain-lain lagi datang silih berganti memasuki kalbu yang terbuka selebar-lebarnya.

Dalam pada itu kesunyian itu membawa Amir kepada Yang Satu.

 
PADAMU JUA
 
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu.

Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa

Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati.

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lapar.

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai.

Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu — bukan giliranku
Mati hari — bukan kawanku ....

Berlainan benar bentuk sajak ini dengan yang ada di dalam Buah Rindu. sajak yang ada itu ada yang merupakan pantun yang bersajak, bersilih dua-dua. Bentuk yang di atas dapat dikatakan bentuk sajak yang bebas. Hanya isilah yang dipentingkan.

Demikianlah sajak-sajak yang lain di dalam Nyanyi Sunyi tidak berbentuk, sebab isilah semata-mata yang dipentingkan.

Dalam sajak ini dan sajak Amir yang lain kelihatan juga pandangan hidupnya yang berdasarkan ajaran Agama. Yaitu percaya kepada sesuatu Tuhan. Dan Tuhan itulah yang terasa olehnya ditemui dalam kesunyian itu. Padanya jua ia kembali seperti dahulu waktu ia dalam pangkuan ayah dan bunda.

Dalam pertemuannya dengan Yang Satu pada ketika itu terasa baginya bahwa segala cintanya habis kikis, hilang terbang. Lalu dipujinya Tuhan, sebagai kandil kemerlap, pelita jendela gelap, melambai pulang perlahan, sabar setia selalu. Dalam memuji itu bertanya ia kepada Tuhan: Di mana engkau, rupa tiada sedang ada suara yang sayup-sayup kedengaran, dan hanyalah kata yang merangkai hati. Sesudah terasalah baginya sifat Tuhan yang bertentangan dengan yang di atas itu, ialah tanda sesuatu yang sempurna, berkatalah Amir:

Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara di balik tirai.

Demikianlah Amir sebagai mangsa di dalam cakar Tuhan yang cemburu dan ganas, sekali-sekali dilepas, sekali-kali ditangkap lagi. Sesudah menjadi gila, sayang berulang pada Tuhan jua. Dan sedang Amir tidak berlalu dengan waktu, tidak turut mati dengan hari, kasih Tuhan itu tetap menunggu seorang diri.

Tetapi dalam pada itu kenangan pada yang lampau tetap dengan pasti datang mengunjungi kalbunya, sekalipun cinta yang terkandung dalam kenangan itu sudah habis terkikis tadinya.

Dalam keadaan yang demikian balik lagi Amir kepada Tuhan yang lena dalam hatinya. Mulailah pula ia memujinya:

Kujunjung di atas hulu
Kupuji di pucuk lidah
Kupangku di lengan lagu
Kudaduhkan di selendang dendang.

Tetapi dalam memuji itu menjelma lagi perasaan cinta berahinya di samping perasaannya yang suci memuji Tuhan. Dan dengan asyik berahinya berkobarlah perasaan yang terkandung di dalamnya membawa barisan laguan kata:
 
Bangkit Gunung
Buka mata-mutiaramu
Sentuh kecapi firdusi
Dengan jarimu menirus halus

Biar siuman dewi nyanyi
Gambuh asmara lurus lampat
Lemah ramping melidah api
Halus harum mengasap keramat

Mari menari dara asmara
Biar terdengar swara swarna
Barangkali mati di pantai hati
Gelombang kenang membanting diri.

Betapa indahnya kuplet yang penghabisan!

Terasa benar oleh tenaga huruf r dara asmara menar-nari, dan swara swarna terdengar pula dengan hebatnya, sedangkan huruf i dalam kedua baris yang terkemudian tepat pada tempatnya.

Seaudah itu sunyi lagi di sekeliling Amir. Kalbu yang menjunjung memuji Yang Satu dan penuh dengan tari dan swara swarna kini lagi kepada Yang Mahakuasa itu.

Terbit ingin dalam kalbu Amir akan mengetahui Tuhan yang dipujinya dan mempunyai sifat yang bertentangan itu. Dalam keinginan itu teringatlah ia akan waktu kecilnya di bawah tilikan mata ibu, membaca Kitab suci agama Islam, teringat pula ia akan masa sekolahnya di sekolah Mulo yang bersuasana Kristen, yang mempunyai Kitab suci pula. Dan teringatlah ia akan kekuasaan Tuhan yang diceritakan di dalamnya. Riwayat tentang kekuasaan Yang Maha Kuasa itu terbayang dalam kedua sajak Hanya Satu dan Permainanmu.

HANYA SATU

Timbul niat dalam kalbumu:
Terban hujan, ungkai badai
Terendam karam
Runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
Lari terbang jatuh duduk
Air naik tetap terus
Tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh redam terbelam
Dalam gagap gempita guruh
Kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

Terapung naik jung bertudung
Tempat berteduh nuh kekasihmu
Bebas lepas lelang lapang
Di tengah gelisah, swara sentosa.

**

Bersemayam sempana di jemala gembala
Juriat jelita bapaku iberahim
Keturunan intan dua cahaya
Pancaran putera berlainan bunda

Kini kami bertikai pangkai
Di antara dua, mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengah langsung melewat abad.
 
Aduh kekasihku
Padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa musa di puncak tursina.

Nyata di sini betapa taatnya pujangga Amir. Dapat merasakan kekuasaan Yang Mahakuasa sedalam-dalamnya. Segala apa yang berlaku di atas dunia, bagi Amir tiadalah lain datangnya dari pada Tuhan.

Timbul niat saja di dalam kalbu Tuhan, diturunkannyalah hujan yang lebat, dan bertiuplah badai yang sekencang-kencangnya, sehingga sekaliannya yang ada di atas permukaan bumi ini terendam, runtuh seluruhnya. Betapa indahnya kedahsyatan alam terlukis dalam kuplet yang kedua sampai yang keempat. Betapa kecilnya kita, manusia, dibandingkan dengan Yang Mahakuasa itu. Dalam guruh yang gegap gempita, sedang kilau kilat membelah gelap, lidah api menjulang tinggi, tampaklah di mata rohani pujangga jung bertudung, tempat berteduh Nabi Nuh kekasih Tuhan, bebas lepas di alam yang luas, sejauh mata memandang tidak lain dari pada air.

Lebih indah lagi, dan lebih terasa kemuliaan Yang Mahakuasa jika terbaca dan teresapkan seresap-resapnya:

Di tengah gelisah swara sentosa.

Kenikmatan sajak yang tujuh kuplet yang di atas itu letaknya di dalam pertentangan empat sajak yang mula-mula dan tiga sajak yang di bawahnya. Tidakkah berubah, tidakkah menjadi tenang kembali perasaan kawan yang tadi menggelora, gelisah bersama-sama dengan topan badai, guruh dan kilat yang membelah gelap? Ketika terbaca dan tampak nyata di dalam kalbu:

Bersemajam sempana jemala gembala
dst.

Suasana yang lain dari pada yang di atas. Tenteram dan damai. Ibrahim mempunyai dua anak lelaki, yang berlainan bunda. Hagar dengan anaknya Ismail dan Sara beranak Isak. Keturunan Ismail ialah Nabi Muhammad dan keturunan Isak ialah Nabi Isa. Dan sampai sekarang hal Ismail dan Isak itu masih tetap menjadi buah pertikaian kaum agama, untuk menyatakan siapakah di antara kedua itu yang tertinggi. Abad lalu zaman berganti, dan pertikaian itu masih tetap tinggal pertikaian. Tetapi bagi Amir pertikaian yang demikian tidak memusingkan kepalanya. Baginya tiadalah lain dari pada:

Aduh kekasihku
Padaku semua tiada berguna
Hanya satu kutunggu hasrat
Merasa dikau dekat rapat
Serupa musa di puncak tursina.

Isi sajak yang di bawah ini lebih lagi menegaskan kekuasaan Tuhan:

PERMAINANMU

Kaukeraskan kalbunya
Bagai batu membesi benar
Timbul telangkaimu bertongkat urat
Ditunjang pengacara patah pasih

Di hadapan lawanmu
Tongkatnya melingkar merupa ular
Tangannya putih, putih penyakit
Kekayaanmu nyata, terlihat terang

Kekasihmu ditindasnya terus
Tangan, tapi tersembunyi
Mengunci bagi pateri
Kalbu ratu rat rapat

Kaupukul raja-dewa
Sembilan cambuk melecut dada
Putra-mula pengganti diri
Pergi kembali ke asal asli

Bertanya aku kekasshku
Permainan engkau permainkan
Kautulis kaupaparkan
Kausampaikan dengan lisan

Bagaimana aku menimbang
Kaulipu lipatkan
Kauketam kabutkan
Kalbu ratu dalam genggammu

Kauhamparkan badan
Di tubir bibir pantai permai
Raja ramses penaka durjana
Jadi tanda di hari muka

Bagaimana aku menimbang
Kekasihku astana sayang
Ratu restu telaga sempana
Kekasihku mengunci hati
Bagi tali disimpul mati.

Kekuasaan itu dinyatakan dengan perantaraan Nabi Musa dan saudaranya Harun. Ketika itu Nabi Musa usianya 80 tahun, dan Harun 83 tahun. Oleh Tuhan Nabi Musa disuruh melepaskan bani Israil dari Firaun. Karena kekerasan hatinya Firaun tidak melepaskan, sebelum diperlihatkan Nabi Musa dua mukjizat, yaitu:

Tongkatnya melingkar merupa ular
Tangannya putih, putih penyakit.

Sungguhpun demikian:

Kekasihmu ditindasnya terus
Tangan, tapi tersembunyi
Mengunci bagi pateri
Kalbu ratu rat rapat.

Bangsa Yahudi yang dikasihi Tuhan tetap ditindasnya. Oleh sebab itu dijatuhkan Tuhan sembilan hukuman berturut-turut, karena sesudah tiap-tiap hukuman itu Firaun tidak juga mau melepaskan bani Israil berlalu dari tanah Mesir. Sesudah hukuman yang kesembilan, jaitu:

Putera-mula pengganti diri
Pergi kembali ke asal asli

barulah Israil itu dilepaskannya pergi berangkat dengan selekas-lekasnya.

Menurut Amir Hamzah sekaliannya itu sebagai permainan bagi Tuhan.

Bertanya aku kekasihku
Permainan engkau permainkan
Kautulis kaupaparkan
Kausampaikan dengan lisan.

Kejadian-kejadian yang di atas menjadi buah pertimbangan Amir. Siapakah yang tidak memikirkan keanehan, keganjilan dan rahasia hidup yang timbul dengan sendirinya pada saat-saat kita lepas dari ikatan kenyataan? Memikir-mikirkan segala apa saja yang berlaku atas dirinya masing-masing, mulai dari yang sekecil-kecilnya yang menurut ukuran perasaan tidak seberapa nilaiannya sampai kepada yang besar-besar yang ada kalanya dapat menentukan jalannya sejarah dunia pada umumnya, tetapi tidak sering juga yang besar itu menjadi sampiran dari kejadian-kejadian yang berlaku di belakangnya itu.

Bagi Amir yang dipertimbangkan ialah sifat-sifat Tuhan yang ajaib dan penuh pertentangan. Tuhan yang selalu setia dan sabar, yang melambai pulang dengan perlahannya, yang menjadi kandil kemerlap, serta pelita jendela di malam yang gelap. Tuhan yang terasa lena ada di dalam hatinya, yang ditunggu, dihasratkan senantiasa supaya dekat rapat di sisinya. Betapa berbahagianya yang demikian. Tetapi apabila Amir teringat lagi akan untung malangnya yang sunyi itu, maka seolah-olah lenyaplah sifat-sifat yang mulia itu. Seakan-akan memberontaklah sukma pujangga yang rapuh halus, tak ada lain kata yang keluar dari dalamnya: Engkau cemburu, engkau ganas, Mangsa aku dalam cakarmu, Bertukar tangkap dengan lepas. Apalagi kalau teringat olehnya akan kehebatan alam yang dipenuhi guruh dan halilintar yang gegap gempita, kilat sabung menyabung membelah gelap disertai hujan yang lebat yang diterbangkan oleh topan badai yang maha dahsyat. Dan dengan hukumannya yang dijatuhkannya atas pundak raja Firaun serta rakyatnya, tibalah Amir kepada kesimpulannya bahwa bumi dan segala apa yang ada di atasnya pada khususnya, serta sekalian alam pada umumnya, hanyalah permainan semata kepada Yang Mahakuasa, yang dapat diperlakukannya menurut kehendaknya sendiri. Lalu kembali lagi Amir meninjau dirinya sendiri. Katanya:

TETAPI AKU

Tersapu sutera pigura
Dengan nilam hitam kelam
Berpadaman lentera alit
Beratus ribu di atas langit

Seketika sekejap mata
Segala ada menekan dada
Napas nipis berlindung guring
Mati suara dunia cahaya

Gugur badanku lemah
Mati api di dalam hati
Terhenti dawai pesawat diriku
Tersungkum sudjud mencium tanah

Cahaja suci riwarna pelangi
Harum sekuntum bunga rahsia
Menyinggung daku terhantar sunyi
Seperti hauri dengan kepaknya.

Rupanya ia mutiara jiwaku
Yang kuselami di lautan masa
Gewang canggainya menyentuh rindu
Tetapi aku tiada merasa .....................


Artikel ini diambil dari Pudjaugga Baru no, 9-10/11 dan 12 (Maret/April/Mel/junt) Tabun X. 1948.



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 5699

Berita lainnya