Register | Member login
Berita
25 Juni 2010

Amir Hamzah (II)


Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Amir Hamzah (1) yang sebelumnya pernah dimuat di situs ini.

AIRANI-MOLITO (L. K. BOHANG)

II

Kasih antara tuan dan aku ini, maha bersahaja seperti nyanyi.
R. Tagore

Ketika pikiran tak dapat memegang tali kenangan, dicarinya jalan yang lain untuk berlepas dari tekanan rindu. Datanglah pancaindera menggerakkan pendengarannya, lalu dibukanya telinganya selebar-lebarnya, tetapi:

Kicau murai tiada merdu
Pada beta bujang Melayu
Himbau pungguk tiada merindu
Daum telingaku seperti dahulu.

juga tidak berhasil. Sebab putus asa mempengaruhi kalbunya, maka diundangnya maut:

Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita.

Tetapi maut pun tidak hendak melepaskannya. Sesudah dijalankannya pikirannya, dibukanya telinganya, sesudah dilihatnya ke kiri dan ke kanan, ke hadapan ke belakang serta ke dalam, tetapi tak ada suatu pun yang dapat memberi topangan kepadanya, maka memandanglah ia ke atas, bertanyalah la kepada yang berarak-arak dan terbang di angkasa:

Sesaat, sekejap mata beta berpesan
Padamu tuan aduhai awan
Arah manatah tuan berjalan
Di negeri manatah tuan bertahan?

Elang, Rajawali burung angkasa
Turunlah tuan barang sementara
Beta bertanya sepatah kata
Adakah tuan melihat adinda?

Walaupun bertanya ke sana sini, tak ada juga dapat memberi jawaban:

Mega telah kusapa
Margasatwa telah kutanya
Maut telah kupuja
Tetapi adinda manatah dia

Oleh sebab masa yang lampau, dan apa yang di alam kelilingnya, tak ada yang dapat dibuatnya untuk tempat berpegang, maka makin terasalah olehnya rindu yang mengiris kalbunya, sampai bercucuranlah air matanya, lemah layulah anggotanya:

Hatiku rindu bukan kepalang
Dendam beralik berulang-ulang
Air mata bercucur selang menyelang
Mengenangkan adik kekasih abang.

Diriku lemah anggautaku layu
Rasakan cinta bertalu-talu
Kalau begini datangnya selalu
Tentulah kakanda berpulang dahulu

Di saat ini terbentanglah di padang rindu jalan kemasa yang datang. Sukma pujangga yang mengandung perasaan yang maha halus, dan yang dapat merasakan apa yang akan berlaku, ternyata pula di sajak Amir. Nasib cinta yang tak sampai, yang akan menimpa dirinya, sudah dapat dirasakannya lebih dahulu di padang rindu itu. Karena di dunia tak ada yang dapat menolongnya, maka berpalinglah Amir kepada dewata, yang tak dapat dipegangnya dengan alat pancainderanya:

Tinggallah tuan, tinggallah nyawa
Tinggal juita tajuk mahkota
Kanda lalu menghadap dewata
Bertelut di bawah cerpu Maulana.

Kalau kakanda duduk menyembah
Duli dewata mulia raya
Kanda pohonkan untung yang indah
Kepada tuan wahai adinda.

Tinggallah tuan, tinggallah nyawa
Sepanjang hari segenap masa
Pikiran kanda hanyalah kemala
Dilindungi Tuhan Maha Kuasa.

Kalau mega berarak lalu
Baju berhembus sepoi basah
Ingatlah tuan kanda merayu
Mengenangkan nasib salah tarah.

Kalau hujan turun rintik
Laksana air mata jatuh mengalir
Itulah kanda teringatkan adik
Duduk termenung berhati khawatir.

Berbagai-bagai kata yang telah keluar mengalir dari sukma pujangga yang tak kunjung kering. Yaitu kata-kata yang turut terbuai dengan alun irama Amir, menurun melembah mengandung duka derita, meninggi mendaki mengandung ria gembira cinta berahi. Kedua perasaan itu bertemu di telaga rindu yang berpisah kembali pada kenangan akan masa yang lampau dan ramalan untuk masa yang datang. Pertemuan kenangan dan ramalan itu ialah pada arus khawatir akan segala sesuatu yang tidak tetap. Arus khawatir itu tujuannya ke arah jawaban dan pertanyaan. Maka bertanya-tanyalah ia di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri tidak dapat memberi jawaban atas pertanyaan yang timbul tenggelam itu. Kepada siapa hendak ditanyakan? Kapada alun ombak? Ah, alun ombak hanya dapat menimbulkan irama ...... Kepada ibu yang djauh terpisah di tanah tumpah darah? Ah, ibu hanya membangkitkan rindu .... Kepada kawan yang lain ? Ah, mereka hanya memberi kesenangan selintas lalu .... Ataukah kepada pelbagai bunga, bunyi burung, bulan dan bintang serta awan? Ah, sekaliannya itu hanya indah saja sebagai kiasan atau perbandingan, sebagai pintu ke alam yang lain dari pada alam kenyataan ini. Pada akhirnya kepada siapa lagi, dari pada kepada yang Satu, tetapi yang tidak terhitung namanya, karena tidak terhitung pula rahasia yang dijelmakanNya:

TUHANKU APATAH KEKAL

Tuhanku, Suka dan ria
Gelak dan senyum
Tepuk dan tari
Semuanya lenyap, silam sekali

Gelak bertukarkan duka
Buka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
cinta membawa wasangka ....

Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apatah tak bersalin rupa
Apatah baka sepanjang Masa ....

Bunga laju disinari matahari
Machluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai.

Salangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
Hilang semata tiada ketara ....

Tuhanku apatah kekal?

Sajak ini ikatannya, bukan saja tidak tetap dan tidak beraturan lagi sebagai sajak yang dahulu, tetapi dapat dikatakan hampir-hampir tidak bersajak: Yang dipentingkan ialah isi semata-mata.

Dan kini isi kalbunya tidak mudah terpengaruh lagi oleh kulit kenyataan. Senda gurau dan gelak gadis yang dibuat-buat untuk menghiasi jiwa yang belum berisi dan pengisi kesunyian yang semakin lengang, tidak menarik hatinya lagi dan tidak pula mengalirkan irama ria gembira yang meloncat-loncat.

Apabila timbul pertanyaan:

Sungguh matahari dirangkum segara
Purnama raya dilingkung bintang
Tetapi engkau, aduhai kelana
Siapa mengusap hatimu bimbang?

maka didiamkannya hatinya:

Diam hatiku, diam
cobakan ria, hatiku ria
Sedih tuan, cobalah pendam
Umpama disekam, api menyala.

Dan pada pertanyaan:

Mengapakah rama-rama boleh bersenda
Alun boleh mencium pantai
Tetapi beta makhluk utama
Duka dan cinta menjadi selampai?

Masuklah ia ke dalam kalbunya sambil mernbisik:

Senyap, hatiku senyap
Adakah boleh engkau merana
Sudahlah inl nasib yang tetap
Engkau terima di pangkuan bonda.

Tidak ada pertanyaan lagi, dan khawatir pun menghilang bersama-sama. Bagaimana sekalipun duka yang dikandung kalbunya, yaitu ketika bundanya meninggal dunia, selagi dia masih sekolah, tidak ada lagi aliran tangisan yang keluar dari hati yang sayu rayu, yang kedengaran hanya:

Sudahlah nasib tiada bertemu
Sudahlah untung hendak piatu
Bagaimana mengobah janji dahulu
Sudah diikat di rahim ibu.

Apa benarkah, benarkah alam perasaan Amir semata-mata dilingkungi dinding nasib? Benarkah segala ragam perasaan duka dan suka itu tiba ke jalan buntu yang dialangi oleh dinding nasib? Beruntung belum, beruntung belum, sebab, dengarlah sajaknya di dalam:

BERDIRI AKU

Berdiri aku di senja senyap
camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang.

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-alun di atas alas.

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengarak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.

Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju

Tentang sajak ini S. Takdir Alisjahbana berkata:

“Di sini Kesusasteraan Indonesia yang baru dapat menyamai buah kesusasteraan negeri luaran yang sesempurna-sempurnanya. Seluruh syair itu satu nyanyian, sunyi sepi laksana asap pedupaan yang halus, bergulung-gelung membubung tiada teraba di tempat keramat yang bersih suci. Betapa segala makhluk dan tumbuh-tumbuhan sampai kepada angin dan pelangi mabuk terhanyut dalam lagu senja dari tempat yang gaib. Tiap-tiap kata, tiap bunyi turut berlagu dalam persatuan lukisan, irama dari suara yang tidak bercela, oleh karena tepat letaknya masing-masing dalam leretan alun nafas pujangga.

Perhatikan kuplet:

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-alun di atas alas

dan amat-amati bahagian yang saya renggangkan.

Alangkah mesra penglihatan penyair terlukis dan oleh keberanian kiasan “mengempas emas”, “memuncak sunyi”, “berayun alun di atas alas”, menggetarlah di sekeliling tutur “berajun alun di atas alas”, menggetarlah di sekeliling tuturnya sinar hidup seperti dalam mimpi nikmat yang jauh”.

Terjelmalah pertemuan perasaan rindu dengan sendu mengharu kalbu di balik rupa yang maha sempurna. Pada kuplet yang penghabisan bertemulah jiwa Amir dengan jiwa Alam untuk seketika, yang menimbulkan bahagia yang tak berhingga. jiwa pujangga muda remaja yang sejak kembangnya seolah-olah terpisah dari jiwa alam, dan yang seolah-olah hanya mendengarkan pecahan ombak serta seruan serunai, yang hanya tergerak di waktu terpandang bermacam-macam bunga, yang bergelora gembira ria memeluk kekasihnya di purnama raya, yang tidak jemunya bertanya kepada mega yang berarak-arak, kini tiba di puncaknya, bersatu dengan jiwa Alam di dalam rupa yang maha sempurna. Lalu terasalah kepadanya kesentosaan alam, aliran hidup di¬dalam ala  yang bertentuan tujuannya. Awan bergumpal-gumpal sesudah melayang-layang pada akhirnya menghilang lenyap, jatuh berupa air hudjan, menyuburkan bumi, menghidupkan tumbuh-tumbuhan serta makhluk-makhluk yang lain, masing-masing dengan tujuannya.

Terbit ingin di dalam hati Amir untuk merasakan kesentosaan dan menyecap hidup yang bertentuan tujuannya sesudah ditarik kenyataan ke sana-sini. Di dalam sajak ini jiwa muda remaja sampai ke puncaknya sesudah melalui berbagai-bagai pertentangan perasaan. Oleh pertentangan-pertentangan perasaan itu terciptalah keindahan sukma anak Indonesia di dalam bahasa Indonesia yang sanggup mengandung perasaan yang memilih berlinang-linang, bergenang tenang linang, lalu berombak-ombak beralun bergelombang, pada akhirnya datang berduyun-duyun dan berderai-derai, memecah memancarkan sinar keindahannya di pantai kalbu pencinta bahasa Indonesia. Perasaan itu keindahannya kelihatan pula sebagai lukisan alam Indonesia dengan kata yang permai, serta kedengaran sebagai nyanyian yang merdu di dalam tumpukan huruf peniru bunyi.
Pada akhirnya jiwa Amir Hamzah di dalam Buah Rindu, yang turut terbuai dengan lautan yang menyejukkan Indonesia, yang mengombak memecah dengan ria gembira cinta berahi, bergelombang menggulung dengan pertentangan bermacam-macam perasaan dan yang kemudian bersatu dengan jiwa alam, sedemikian teguhnya, sehingga dapat membawa badannya melayang terbang ke awan:

Membubung badanku, melambung, mengawan,
Naik, naik, tipis-rampis, kudus-halus
Melayang-terbang, mengambang-kambang
Menyerupa-rupa merona-warni langit-lazwardi.

Bertiup badai merentak topan
Larikan daku hembuskan badan
Tepukkan daku ke puncak tinggi
Ranggitkan daku ke lengkung pelangi....

Tenang-tenang anginku sayang
Tinggalkan badan di lengkung benang
Reda(n)-reda(n) badaiku dalam
Ulikkan sepoi sunyikan dendam.

Biarkan daku tinggal di sini
Sentosa diriku di sunyi sepi
Tiada berharap tiada meminta
Jauh Dunia di sisi Dewa.

Dalam pada itu Amir berpindah ke Solo melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Tinggi (A.M.S. bag. A-I), dan setamatnya di sekolah itu kembali ke Jakarta, masuk menjadi studen di Sekolah Tinggi Hakim. Pengetahuannya makin bertambah luas dan dalam serta perasaannya bertambah halus.

Dari atas awan, dari lengkungan pelangi, tampak olehnya dari berbagai-bagai sudut, mulai dari tanah Arab sampai ke kepulauan Nippon, jiwa pujangga Asia Raya melambai dia.

 

(Bersambung)



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 5225

Berita lainnya