Register | Member login
Berita
25 Juni 2010

Amir Hamzah (I)


oleh AIRANI-MOLITO (L. K. BOHANG)

 

Kasih antara tuan dan aku maha bersahaja seperti nyanyi.
R. Tagore

 

I
“Pada tahun 1850, maka berpulanglah Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi di Mekkah, tunas akhir ahli sastera cap kuno, berpuluh tahun tiada lahir buah tangan pengarang penyair yang sederhana; dalam awal abad kedua puluh bangkitlah pandu pujangga baru dan kini telah naiklah matahari di padang pustaka menyinari taman puspawarna yang akan membukakan kelopaknya untuk mengharumi masyararakat baru, penjunjung pemuja dewi seni, pematah - pemukul kupasan rendah”. Dengan ucapan ini disudahi Amir Hamzah uraiannya tentang Kesusasteraan tanah Arab, Ajam, Hindi, Tiongkok dan Indonesia, yang termuat di dalam majalah “Pujangga Baru”.

Benar berpuluh tahun tiada lahir buah tangan pengarang penyair yang sederhana. Tidak kedengaran nyanyian jiwa pujangga Indonesia. Tetapi dalam pada itu di Indonesia timbul soal bahasa yang dihadapi pemerintah. Soal itu membawa soal yang lain pula, yaitu soal bahasa daerah, bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Dari soal-soal ini lahirlah cita-cita dan angan-angan salah seorang Belanda, untuk mengajarkan bahasa Belanda kepada bangsa Indonesia. Suara cita-cita itu makin terang kedengaran dan makin pula menghampiri kenyataan pada akhir abad yang lalu.

Tetapi dalam pada itu juga lahir generasi Indonesia baru yang pertama yang membangkitkan pergerakan keba¬ngunan rakyat Indonesia pada permulaan abad kedua puluh ini. Dan di waktu pembangunan itu mulai tumbuh, lahirlah generasi Indonesia baru yang kedua, yang tengah sibuk menjalankan kewajibannya yang berhubungan rapat dengan cita-cita masing-masing.

Di antara generasi baru yang kedua ini terhitung Amir Hamzah, dilahirkan pada tanggal 28 Pebruari 1911 di Tanjung Pura. Setelah mengunjungi Sekolah Rakyat (H.I.S.) di Tanjung Pura, lalu diteruskannya sekolahnya di Sekolah Menengah Pertama (MULO) Medan. Di situ tidak sampai tamat, sebab waktu duduk di kelas dua, ia berangkat ke Jakarta untuk meneruskan sekolahnya di tempat itu.

Ditinggalkannya lingkungan yang membesarkannya dan yang taat beragama Islam. Sangat berat dirasanya bercerai dengan bundanya yang sayang kepadanya dan sangat disayangi¬nya pula. Pengaruh lingkungan yang taat beragama Islam dan kasih sayang kepada bundanya tampak betul di dalam buah kalamnya. Dan ketika meninggalkan tanah tumpah darahnya, tersangkut pula hatinya kepada tanah airnya. Di waktu kapal yang membawanya ke tanah Jawa makin terpisah dari pantai pulau Perca, serta tali pandangan yang merangkai kalbu Amir dengan daratan makin halus dan rapuh, mulai tergerak sukma pujangga. Sayup-sayup kedengaran bersiul dari dalam. Dan apabila daratan itu hilang dari pandangannya, maka mengalirlah perasaan keindahannya, membawa kalimat bersajak yang di bawah ini:

Tinggallah tuan, tinggallah bonda
Tanah airku Sumatera raya
Anakda berangkat ke pulau Jawa
Memungut bunga suntingan kepala.

Pantai Cermin rumu melambai
Selamat tinggal pada anakda
Rasakan ibu serta handai
Mengantarkan beta ke pangkalan kita.

Selat Melaka ombaknya memecah
Memukul kapal pembawa beta
Rasakan swara yang maharamah
Melengahkan anakda janganlah duka.

Jika dibaca dengan perasaan yang tenang dan kalbu yang terbuka akan terbayanglah pantai yang melambai di mata kawan. Dengan sendirinya terbayang juga Amir berdiri di atas geladak kapal, memandang ke arah tanah airnya, memandang ke biduk-biduk yang turun naik dengan perlahannya menurut alun ombak yang lemah lembut, yang membuaikan perasaan halus pujangga.

Alun ombak yang lemah lembut itu ialah irama yang terjelma di dalam kalimat sajak yang di atas. Perkataan-perkataan yang sederhana serta isi yang bersahaja menambah kebagusannya. Kebagusan itu dihiasi pula oleh bunyi a yang berulang-ulang kedengaran dalam kalimat “Rasakan swara yang maha ramah”. Bunyi a yang berulang-ulang ini kerap kali akan ditemui di sajak Amir yang lain, bersama-sama dengan kata “maha” yang kerap pula dipakainya.

Tiba di teluk Jakarta bertambah tinggi dan makin mendalam alun telaga pancaindera jiwa penggemar seni. Telaga itu tidak tahan tenang oleh tiupun angin pemandangan dan pendengaran yang menimbulkan perasaan kesal di dalam hati bercampur susah, lagi memberi sayap kepada pikiran, untuk melayang ke segala penjuru mata angin. Yang kelihatan dan menyusahkan hati itu timbul kembali sebagai lukisan yang elok di dalam sajak:

TELUK JAYAKATERA

Ombak memecah di tepi pantai
Angin berhembus lemah-lembut
Puncak kelapa melambai-lambai
Di ruang angkasa awan bergelut.

Burung terbang melayang-layang
Serunai berseru “adikku sayang”
Perikan bernyanyi berimbang-imbang
Laut harungan hijau terbentang.

Asap kapal bergumpal-gumpal
Melayari tasik lautan Jawa
Beta duduk berhati kesal
Melihat perahu menuju Samudera.

Musyafir tinggal di tanah Jawa
Seorang diri sebatang kara
Hati susah tiada terkata
Tidur sekali haram cendera.

Pikiranku melayang entah ke mana
Sekali ke timur sekali ke utara
Mataku memandang jauh ke sana
Di pertemuan air dengan angkasa.

Ombak mengempas ke atas batu
Bayu merayu menjauhkan hati
Gelak gadis membawaku rindu
Terkenangkan tuan ayuhai yayi.

Ikatan sajak yang di atas itu ada yang bersilih dua-dua, ada yang sama sajaknya pada keempat barisnya. Yang demikian adalah suatu kebiasaan pada Amir Hamzah. Dapat dikatakan tiap-tiap sajaknya tidak mempunyai ikatan yang tetap tertentu.

Dalam pada itu di dalam sajak yang kedua ini makin terasa kuasa tenaga Amir menggunakan dan merangkaikan huruf peniru bunyi, yang lebih menjelaskan sesuatu yang kelihatan atau yang lebih menghidupkan sesuatu yang kedengaran. Betapa tepatnya dia, memakai bunyi i dan ai pada kuplet yang pertama. Terasa benar suasana sejuk membelai. Sedang dalam kuplet yang kedua bunyi ng seolah-olah medengung membubung ke atas, membawa perhatian kepada seruan serunai dan kepada yang kelihatan di angkasa. Dan tidakkah terdengar kepada kawan “Ombak mengempas ke atas batu” yang diresapkan oleh bunyi as? Sedang bunyi u pada “Bayu merayu-rayu menjauhkan hati”, mengosongkan, menolak empasan ombak tadi, dan yang tersisa di dalam kalbu hanyalah perasaan iba dan pilu.

Di Jakarta ia diterima menjadi murid Sekolah Menengah Pertama (Mulo) partikulir dari golongan Kristen. Suasana Kristen di dalam sekolah itu memberi kesan pula kepada jiwa yang dibentuk oleh agama Islam. Di dalam dan di luar sekolah itu mulailah kembang sukma pujangga oleh yang indah di alam kelilingnya. Mulailah tampak dan terasa tenaga yang mendeburkan jantung pujangga dan yang terkandung di dalam irama seluruh ciptaannya. Tenaga yang tetap dinamis di dasar aliran perasaan kesenian Amir, ialah cinta kepada sesuatu yang indah dan mulia.

Sebagai kebiasaan di masa muda remaja, Amirpun tertarik oleh permainan senda gurau yang dibayangkan oleh pandangan dan pertukaran air muka gadis sepergaulannya. Terlihat mulut yang mulai merekah, tersenyum simpul Amir, dengan tidak disengaja teringat kepada bunga yang mengirai kelopaknya. Bunga cempaka dijadikannya lambang penglipur lara, tempat mencurahkan cinta berahinya.

Menyanyilah jiwanya:

Cempaka, aduhai bunga penglipur lara
Tempat cinta duduk bersemayam
Sampaikan pelukku, wahai kusuma
Pada adinda setiap malam.

Lain daripada itu bunga cempaka serta bunga yang lain dijadikanya juga lambang gadis dari berbagai-bagai lagak. Apabila Amir kecewa sesudah pertemuan dengan gadis yang disangkanya masih suci bersih, tetapi nyata, telah berkali-kali bertukar kekasih, maka mengeluhlah ia di dalam  sajaknya:

Kusangka cempaka kembang setangkai
Rupanya melur telah diseri ……………
Hatiku remuk mengenangkan ini
Wasangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang
Belum tahu sinar matahari....
Rupanya teratai patah kelopak
Dihinggapi kumbang berpuluh kali.

Igauanku subuh, impianku malam
Kuntum cempaka putih bersih ......
Kulihat kumbang keliling berlagu
Kelopakmu terbuka menerima cumbu.

Demikianlah tiap-tiap bunga itu menimbulkan berbagai-bagai perasaan di dalam hati Amir. Apabila tampak olehnya kembang kemboja, maka seluruh ingatannya seolah-olah tertuju ke pekuburan.

Kalau kulihat tuan, wahai, suma
Kelopak terkembang harum terserak
Hatiku layu sejuk segala
Rasakan badan tiada dapat bergerak.

Tuan tumbuh tuan hamba kembang
Di negeriku sana dikuburan abang
kemboja bunga rajuan
Hatiku kecu melihat tuan.

Melur ta’ ku mau
Mawar ta’ ku suka
Sebab Semboja dari dahulu
Telah kembang di kubur kanda.

Begitulah jiwa pujangga, di masa mengandung duka, melur tak dimauinya, serta mawar tak disukainya. Tetapi di dalam sajaknya yang lain melur itu menyadi:

Melur! Duta rindu di purnama raya
Kawan sendu di sunji malam
Ratna rupa dahulu kemala
Penambah manis jiwa pendiam.

Bunga mawar putih setangkai
Anakda petik di kaki Wilis
Di atas bumi Jawa raya
Akan penunggu telapakan Bonda

Sedang dalam sajaknya yang sebuah lagi:

Mimpiku seroja terapung di paja
Teratai putih awan angkasa ....
Rupanya mawar mengandung lumpur
Kaca piring bunga renungan ....

Demikianlah tiap-tiap bunga ada maknanya sendiri-sendiri bagi sukma Amir. Apabila ia berduka, maka tak ada bunga yang lain dari pada kemboja yang disukainya. Hatinya tidak tertarik kepada bunga yang lain meski bagaimana sekalipun bagusnya bunga yang lain itu. Dan seluruh perasaannya semata-mata digerakkan oleh kalbunya. Berduka senestapa-nestapanya, tetapi bersuka seria-rianya pada ketika yang berikutnya.

Misalnya di malam bulan terang berbangkitlah ria gembiranya, terasa merayap di seluruh tubuhnya, meloncat-loncat menurut iramanya.


Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke Mayapada

Purnama raya
Gembala berdendang
Tuan berkata
Naiklah abang

Purnama raya
Bujang berbangsi
Kanda mara
Memeluk dewi

Purnama raya
Kelihatan jarum
Adinda mara
Kanda dicium

Memang apabila waktunya bersuka ria, kalbu pujangga terbuka selebar-lebarnya, tidak ditahan-tahannya, malahan dilepaskannya selepas-lepas perasaan yang terkandung, sampai-sampai memabukkan:

MABUK

Di tayangan ombak bujang bersela
Di junjung hulu rapuh semata
Di kipas angin bergurau senda
Lupalah kelana akan dirinya ....

Dimabukkan harum pecah terberai
Diulikkan budjuk rangkai-rinangkai
Datanglah semu mengungkai simpai
Hatiku bujang sekali bisai.

Bahkan memuncak jemu:

Bunga setangkai gemalai permai
Dalam tanganku jatuh terserak
Kelopak kupadang sari kunilai
Datanglah jemu mengatakan sudah

Bulan berbuni di balik awan
Taram temaram cendera cahaya
Teja lari ke dalam lautan
Tinggallah aku tiada berpelita.

Demikianlah akhir gembira cinta berahi. Bekas yang ketinggalan tiada lain dari pada kegelapan di dalam kalbu yang tak mungkin dimasuki cahaya kesucian. Di dalam kegelapan yang demikian terasalah sinar ingatan menerangi masa yang lampau:

Kuketuk pintu masaku muda
Hendak masuk rasa kembali
Taman terkunci dibelan pula
Tinggallah aku sunyi sendiri

Kudatangi gelanggang tempat menyabung
Masa bujang tempat beria
Kulihat siku singgung-menyinggung
Aku terdiri haram disapa ....

Teruslah aku perlahan-lahan
Sayu-rayu hati melipur
Nangislah aku tersedan-sedan
Mendengarkan pujuk duka bercampur.

Kudengar bangsi memanggil-manggil
Tersedu-sedu, dayu-mendayu
Terasalahh aku diri terpencil
Badan dilambung gelombang rindu.

Imbau gelombang menyembahkan lagu
Kepada bibirmu kesumba pati
Pikiranku melayang ke padang rindu.
Walaupun dinda duduk di sisi.

Kini tibalah Amir di padang rindu. Di padang rindu itu hanya limbur senjakala yang membungkus dirinya, karena matahari kesenangan muda remaja yang bersinarkan kegembiraan cinta berahi baru saja terbenam. Di dalam kalbunya suara kenangan senda-gurau dengan adindanya serta seruannya kepada ibunya bersahut-sahutan dan sering kali disela oleh laguan rindu kelana jauh duduk merantau:

lbu, seruku ini laksana pemburu
Memikat perkutut di pohon ru
Sepantun swara laguan rindu
Menangis kelana berhati mutu.

Kelana jauh duduk merantau
Di balik gunung dewala hijau
Di seberang laut cermin silau
Tanah Jawa mahkota pulau ....

Tetapi tali kenangan tempat berpegang dan apa yang dikenangkan hilang lenyap dari pikirannya, lalu mengeluhlah Amir:

Buah kenanganku entah ke mana
Lalu mengembara ke sini sana
Haram berkata sepatah jua
Ia lalu meninggalkan beta.

 

(Bersambung)



  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Dibaca : 4801

Berita lainnya