Register | Member login
Resensi Buku

Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair



Buku Amir Hamzah 1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair merupakan salah satu kumpulan tulisan tentang Amir Hamzah. Buku ini merupakan upaya beberapa penyair dan Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin untuk mengenang 50 tahun meninggalnya Tengku Amir Hamzah. Peringatan itu sendiri merupakan upaya untuk menghargai nilai dan perjuangan Amir Hamzah dalam bidang kesusastraan.

Dalam pengantarnya, penyunting buku ini menyampaikan dua hal yang seringkali dicampuradukkan mengenai sosok Amir Hamzah yakni realitas Amir Hamzah sebagai manusia dan realitas kepenyairannya. Amir Hamzah sebagai manusia meliputi hal-hal yang bersifat biografis, sedangkan yang kedua berkenaan dengan nilai-nilai dan posisi kepenyairannya (hlm. 9). Dua hal tersebut memang sulit dipisahkan, karena yang satu adalah mengenai kenyataan diri seorang manusia dalam interaksi dan konteksnya dengan realitas yang ada di sekitarnya. Sedangkan yang lain, yang tertuang dalam bentuk sajak-sajak itu, adalah gagasan yang lahir dari proses perenungan atas pengalaman empiris penyairnya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari para sastrawan dalam bentuk esai dan puisi. Para penulis dalam buku ini antara lain Asrul Sani, Kemala, Abrar Yusra, Achdiat Karta Mihardja, Ajip Rosidi, Goenawan Mohamad, Abdul Hadi WM, serta Amir Hamzah sendiri.

Buku ini dibuka dengan sebuah sajak dari Amir Hamzah yang berjudul “Tuhanku Apakah Kekal?”. Sajak ini merupakan salah satu puisi yang terangkum dalam antologi puisi Buah Rindu. Asrul Sani melanjutkan dengan puisinya berjudul “Sebagai Kenangan Kepada Amir Hamzah Penyair yang Terbunuh”. Ini adalah puisi yang mengenang Amir Hamzah. Tulisan Amir Hamzah kemudian dilanjutkan oleh Kemala dengan satu sajaknya berjudul “Doa Buat Amir” yang ia tulis pada September 1988.

Selanjutnya adalah Abrar Yusra dengan artikel panjangnya yang berjudul “Amir Hamzah, Biografi Seorang Penyair”. Dalam artikel ini, Abrar Yusra menjelaskan perjalanan hidup Amir Hamzah secara biografis. Bukan hanya biografi karya puisi Amir Hamzah saja, namun juga kehidupannya sehari-hari yang kemudian berpengaruh terhadap puisinya. Pertanyaan seputar dan perihal kematian Amir Hamzah menjadi pembuka tulisan Abrar Yusra. Pada bagian ini Abrar mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang ironi akhir kehidupan Amir Hamzah sebagai seorang tokoh yang membawa kesusastraan Indonesia menuju babak baru.

Abrar menuliskan kisah hidup Amir Hamzah dari ketika Amir Hamzah mengenyam pendidikan di kampung halaman, kemudian kehidupannya di Solo, hingga wafatnya pada tahun 1946. Selain itu, ia juga menuliskan bagaimana proses penulisan puisi yang dilakukan Amir Hamzah dan peristiwa yang berada di sebaliknya. Tulisan ini menjadi satu referensi yang bisa dikatakan lengkap sebagai sebuah artikel.

Pada bagian selanjutnya, Achdiat K. Mihardja menyambung tulisan Abrar Yusra dengan sebuah esai berjudul “Amir Hamzah dalam Kenangan”. Tulisan Achdiat tampaknya lebih menceritakan kehidupan pribadi Amir Hamzah daripada membahas karya-karya tokoh ini. Perkenalan Achdiat K. Mihardja dengan Amir Hamzah memang sudah berlangsung lama, sehingga ia mengenal betul bagaimana kehidupan Amir Hamzah ketika masih menempuh pendidikan maupun dengan proses-prosesnya.

Meskipun tidak selengkap buku biografi, tampaknya buku ini cukup dapat diandalkan sebagai pintu untuk mengkaji karya dan kehidupan Amir Hamzah lebih jauh. Buku ini tampak masih cukup relevan meskipun sudah beberapa tahun berlalu penerbitan buku ini.

Mujibur Rohman, Redaktur www.MelayuOnline.com & www.TengkuAmirHamzah.com 


Penerbit:Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Tahun Terbit:2011
Penulis:Abrar Yusra, et.all
Penerbit:Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin
Jumlah Halaman:152 halaman
Ukuran:
Cetakan Ke:Pertama
Daftar Isi:
  • Kata Pengantar
  • Dari Editor
  • Tuhanku apatah kekal
  • Sebagai Kenangan kepada Amir Hamzah Penyair yang Terbunuh
  • Doa Buat Amir
  • Amir Hamzah – Biografi Seorang Penyair
  • Amir Hamzah dalam Kenangan
  • Amir Hamzah – Hati yang Ragu
  • Amir Hamzah dan Masanya
  • Amir Hamzah dan Relevansi Sastra Melayu
  • Biodata Para Penulis
  • Indek
Dibaca : 6.083


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :