Register | Member login
Resensi Buku

Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya



 

Perkembangan sastra Melayu dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu zaman klasik, zaman pertengahan, dan zaman baru. Namun, pembagian ini bukan merupakan urutan waktu, atau misalnya satu zaman akan berhenti ketika telah masuk ke zaman berikutnya. Dalam pembagian ini, zaman klasik bisa ada dalam zaman pertengahan dan bahwa zaman pertengahan itu hidup di zaman baru. Demikian menurut Amir Hamzah dalam buku Sastra Melayu dan Raja-rajanya (terbit pertamakali tahun 1942).

Menurut buku tersebut, karya-karya yang muncul pada zaman klasik dan pertengahan adalah hikayat dan pantun, yang kemudian pada zaman baru berubah menjadi roman dan sajak. Keempat karya ini merupakan hasil sastra Melayu yang bertentangan dan dilahirkan dua masa. Cerita-cerita dalam hikayat mengambil tema atau pokok cerita mengenai raja dan keluarganya. Cerita-cerita tersebut dibumbui dengan peristiwa sakti dan ajaib dan berbagai hal yang berbau mistik lainnya. Sementara, berkebalikan dengan hikayat, roman mengisahkan kehidupan orang kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari mereka, mengisahkan suka dan duka kehidupannya, serta kasih dan bencinya.

Pantun mempunyai sifat-sifat tersendiri sebagai sebuah karya sastra. Pantun terdiri dari empat kalimat, dua bait pertama hanya berfungsi untuk menentukan dan mendukung dua buah kalimat yang berturut-turut di bawahnya. Selain itu, dua baris pertama kadang sama sekali tidak cocok isinya dengan dua baris yang ke dua. Misalnya, dua baris pertama menggambarkan alam sekitar, sedangkan dua baris ke dua menggambarkan isi hati si penulis pantun.

Sifat pantun tersebut tidak sama dengan sajak, meskipun konsep pantun kadang masih terbawa dalam sajak. Baris-baris sajak akan menggambarkan perasaan penyair dari awal hingga akhir dan setiap baris sajak mempunyai keterkaitan.

Masyarakat Melayu mempunyai karya sastra termasyhur dalam zaman klasik, yaitu Hang Tuah karangan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Karya sastra ini masih murni merupakan karya sastra Melayu dan belum mendapat pengaruh dari luar, baik dari segi konsep maupun bahasa. Hikayat ini menceritakan Melayu ketika berada di zaman keemasannya. Hikayat Hang Tuah sangat berguna bagi mereka yang ingin melakukan penelitian mengenai kerajaan Melayu asli, bagaimana pemerintahannya, adat istiadat kerajaan, dan berbagai hal yang lain (hlm. 2-3).

Pantun mempunyai pokok kata “tun” yang berarti mengatur, merangkai, dan menyusun. Sedangkan pengertian pantun kiasan ataupun perumpamaan, dan sanjak. Pantun sendiri terbagi menurut kandungan atau isi pantun, misalnya pantun kasih, pantun jenaka, atau pantun nasihat (hlm. 24). Berikut ini adalah contoh pantun:

Anak ikan dipanggang sahaja

Hendak dipindang tidak berkunyit

Anak orang dipandang sahaja

Hendak dipinang tiada berduit

Para pemantun (istilah Amir Hamzah) Indonesia biasanya dipengaruhi oleh kondisi alam yang ada di sekitar mereka. Keindahan alam tersebut menjadi mahkota pantun mereka yang terletak di dua baris pertama. Ini dapat kita lihat pada contoh pantun berikut:

Burung serindit terbang melayang

Singgah hinggap di ranting mati

Duit ringgit dipandang orang

Jarang dipandang bahasa budi

Pada bagian terakhir buku ini, Amir Hamzah menjelaskan sedikit tentang kehidupan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi adalah salah satu tokoh besar bagi masyarakat Melayu. Ia lahir pada tahun 1211 H di Malaka. Abdullah dibesarkan oleh pergaulan dengan berbagai bangsa. Ia menjadi juru bahasa dan pengajar bahasa bagi orang-orang non-Melayu. Karyanya telah disalin ke berbagai bahasa, misalnya kitab Abdullah bin Abdulkadir Munsyi yang diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh J.T. Thomson dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1874, namun terjemahan itu tidak terlalu bagus (hlm. 33-34).

Adapun karya Abdullah yang lain, yakni Perjalanan Abdullah ke Kelantan, disalin oleh Dulaurier ke bahasa Prancis pada diterbitkan di Paris pada tahun 1850. Karangan ini menceritakan tentang keadaan negeri Kelantan. Naskah karangan ini terbit pertama kali di Singapura dan terbitan kedua di Belanda pada tahun 1855. Penerbitan naskah yang kedua merupakan usaha dari J. Pynappel Gz.

Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi merupakan pengarang dan penyair yang pada waktu itu masih sedikit. Abdullah termasuk pujangga pada zaman pertengahan. Namun, menurut Amir Hamzah, sebagai seorang penyair, Abdullah bukan merupakan yang terbaik. Karya pantunnya amat sederhana dan tidak bersemangat (hlm. 35). Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jeddah merupakan karangan terakhir Abdullah yang akhirnya meninggal di Mekah pada 1854 M.

Buku Sastra Melayu Lama dan Raja-rajanya tampak seperti esai panjang Tengku Amir Hamzah mengenai kesusastraan Melayu. Meskipun uraian Amir Hamzah mengenai kesusastraan Melayu lama tersebut tidak detail dan kurang lengkap, namun buku ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam mempelajari kesusastraan Melayu lama.

Mujibur Rohman, Redaktur www.MelayuOnline.com & www.TengkuAmirHamzah.com


Penerbit:Dian Rakyat
Tahun Terbit:1996
Penulis:Amir Hamzah
Penerbit:Dian Rakyat
Jumlah Halaman:36 halaman
Ukuran:
Cetakan Ke:3
Daftar Isi:

 

  • Pendahuluan
  • Sejarah Raja-raja Melayu
  • Pantun Melayu
  • Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi
Dibaca : 9.533


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :