Register | Member login
Resensi Buku

Esai dan Prosa



Amir Hamzah memang telah menorehkan namanya sebagai penyair lewat dua kumpulan puisinya, yakni Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941). Selain itu, Amir Hamzah pun mempunyai karya dalam bentuk prosa, terutama prosa lirik dan esai. Ia sering mengangkat tema-tema sastra Indonesia, terutama sejarah sastra Melayu yang telah ikut mendidik dan membesarkannya. Hal yang menarik dari karangan prosa lirik Amir Hamzah adalah menceritakan kesan-kesan dan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari atau melukiskan kehidupan dan peristiwa-peristiwa dalam istana raja-raja Melayu.

Kumpulan esai dan prosa Amir Hamzah tersebut terangkum dalam sebuah buku berjudul Esai dan Prosa yang terbit pertama kali pada tahun 1982. Ada 17 karya prosa dan esai dalam buku tersebut. Tema yang diangkat dalam buku tersebut juga beragam, mulai dari peristiwa yang ia alami sehari-hari hingga persoalan-persoalan kesusastraan Melayu maupun kesusastraan Indonesia secara umum.

Menurut Amir Hamzah, kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh kesusastraan daerah di luar Melayu. Daerah-daerah yang mempengaruhi kesusastraan di Indonesia tersebut hampir sama dengan kepulauan Indonesia. Pengaruh itu berpadu dengan kekayaan kesusastraan yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, menurut Amir Hamzah, untuk mengkaji kesusastraan di kepulauan Indonesia perlu melihat perkembangan kesusastraan daerah lain, misalnya India, Tionghoa, Arab, dan Persia (hlm. 19). Pengaruh tersebut juga masuk pada bahasa Indonesia yang terlihat pada beberapa kata yang diadopsi dari bahasa lain, misalnya “kantor” dari bahasa Belanda, “kata” dari bahasa Sanskrit, “pikir” dari bahasa Arab, “pensil” dari bahasa Inggris, dan lain sebagainya (hlm. 42).

Kekayaan sastra Melayu menjadi pembuka kumpulan esai dan prosa ini. Di bagian pertama bukunya, Amir Hamzah membahas mengenai sosok Abdullah dalam Hikayat Abdullah yang merupakan karya Melayu terkenal. Namun, dalam tulisannya itu, Amir Hamzah hanya menceritakan sekilas perjalanan Abdullah, semacam kesan-kesan impresif Amir Hamzah sendiri mengenai perjalanan hidup dan kisah Abdullah. Sedangkan tulisan kedua adalah prosa tentang Sultan Alaudin Riayat Shah yang bertahta sebagai Sultan Malaka pada abad ke-16.

Selain itu, ada pula beberapa prosa liris yang ditulis berdasarkan pengalaman atau pemikiran Amir Hamzah, misalnya “Bertemu”, “Mudaku (1)”, “Mudaku (2)”, “Kekasihku”, dan lainnya. Ada dua judul tulisan yang sama dalam buku ini, yaitu “Kekasihku” yang terdapat di halaman 65 dan 69, namun mengangkat tema yang berbeda. Prosa pertama mengangkat tema religius, di mana kekasih di sini adalah Tuhan. Prosa ini tergambar melalui bait-bait prosa liris berikut:

Kekasihku, tiada Engkau tentukan kita berjumpa. Bila masa itu mulai sampai, dapatkah aku melihat wajahMu? Bolehkan aku mengangkat mukaku akan memandang diKau? Akan tahankah aku ditimpa cahayaMu?

……………………………

Engkau dan aku tiada bercerai, Kekashku, seperti api cinta cahaya, bagai angin menyerak gerak, tetapi Engkau yang mulia-raya kudus-keramat, seri-puji, sekar-sinar dan aku sujud pada jari kakiMu menunggu restu daripadaMu, haus dahaga akan kasihMu.

Sedangkan kekasih dalam judul “Kekasihku” yang kedua adalah kekasih yang sesama manusia sebagaimana terlihat pada bait-bait berikut ini.

Dari jauh kulihat engkau keluar dari rumahmu, kekasihku.

Seorang diri, sunyi sekali, tunduk terus, tiada memandang keindahan alam.

Sayang sepi hatiku kecil melihat dikau.

Engkaulah gantungan hatiku, idaman nyawaku, engkau cahaya mata-mataku.

Lemah-lipu kuseru namamu, engkau seru, hanya kuturut dengan pandang, kuikat tinjau, kulambai dengan bisik, kutegur dengan senyum.

Dalam Esai dan Prosa ini terdapat esai yang membahas buku. Pertama adalah Rindu-Dendam sebuah buku kumpulan puisi karya J.E. Tatengkeng dan buku M. Natsir berjudul De Islamietische Vrow en Haar Rech, Deel I Door. Dalam tulisannya, Amir Hamzah menyinggung bagaimana Tatengkeng, melalui puisinya, menjadikan alam sebagai suatu lambang pujian kepada Yang Maha Tinggi. Selain itu, puisi Tatengkeng juga memadukan cinta yang “duniawi” dengan cinta yang kekal, yakni Tuhan. Hal tersebut tergambar dalam bait berikut:

Hasrat tumbuh berkelimpahan / Yang terutama / Kita bersama / Dalam cinta, adinda, akan Tuhan!

Sedangkan buku karangan M. Natsir mengetengahkan masalah hak-hak perempuan Islam yang masih dianggap kecil. Beberapa pernyataan tersebut dikuatkan dengan beberapa kutipan ayat-ayat dari Kitab Suci (63-64).

“Kesusasteraan Indonesia Baru” menjadi penutup buku Esai dan Prosa ini. Tulisan terakhir buku ini membahas masalah kesusastraan Indonesia baru, di mana Amir Hamzah mengambil dua tokoh sebagai wakil dari zamannya, yaitu Sutan Takdir Alisyahbana dan Sanusi Pane. Sanusi Pane cenderung menggunakan simbol-simbol pada zaman Hindu dan Buddha sebagai basis penciptaannya, sehingga beberapa sajaknya banyak dipengaruhi oleh kitab-kitab dan para pengarang Hindu. Sedangkan dalam jiwa Sutan Takdir mengalir darah perjuangan sehingga ia mampu merasakan semua duka dan derita. Hal tersebut memunculkan kesan “keras” dalam sajak-sajaknya.

Buku Esai dan Prosa merupakan buku ketiga karya Amir Hamzah, setelah terbitnya dua kumpulan puisi yaitu Nyanyi Sunyi dan Buah Rindu. Melalui buku ini, pembaca dan pengkaji kesusastraan Indonesia dapat membaca arah pemikiran Amir Hamzah.

Mujibur Rohman, Redaktur www.MelayuOnline.com & www.TengkuAmirHamzah.com


Penerbit:Dian Rakyat
Tahun Terbit:1996
Penulis:Amir Hamzah
Penerbit:Dian Rakyat
Jumlah Halaman:V+77 halaman
Ukuran:
Cetakan Ke:2
Daftar Isi:
  • Kata Pengantar
  • Abdullah
  • Abdullah Ala’udin Rajat Syah
  • Bertemu
  • Mudaku (1)
  • Mudaku (2)
  • Sjirul – Asjar
  • Berselisih
  • Sajak Sebuah
  • Kesusasteraan
  • Raja Kecil
  • Timbangan
  • Timbangan Buku
  • Kekasihku
  • Nyoman
  • Kekasihku
Dibaca : 5.585


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :