Register | Member login
Opinion
05 Desember 2013

Refleksi Jejak Tengku Amir Hamzah


Monumen Penghargaan Tengku Amir Hamzah

Oleh Hudjolly.,M.Phil

“....bagi saya ialah, bahwa Amir dalam Nyanyi Sunyi dengan murninya menerakan sajak-sajak yang selain oleh ‘kemerdekaan penyair’ memberi gaya baru pada bahasa Indonesia, kalimat-kalimat yang pedat dalam seruannya, tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir bisa dikatakan destruktif terhadap bahasa lama, tetapi suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru!” (Chairil Anwar, 1946:143)

Kutipan di atas merupakan pandangan Chairil Anwar terhadap karya-karya terhadap karya Tengku Amir Hamzah (TAH). 100 tahun yang lalu, penyair Poejangga Baroe ini dilahirkan, tepatnya 28 Februari 1911 dan menjadi pusat diskursus bentuk sastra hingga lebih dari satu dasawarsa berikutnya. Armijn Pane (1933) menilai bahwa justru teks-teks puisi Indonesia telah berhasil memanfaatkan unsur-unsur bahasa dan puitika Melayu secara kreatif dalam bentuk vorm baru yang mencerminkan jiwa pantun. A Johns (1964) menyebut hubungan manusia-Tuhan merupakan unsur paling kuat dalam puisi Amir Hamzah.

Sedangkan Sutan Takdir Alisyahbana (1979) mengatakan bahwa sebagian terbesar puisi Amir Hamzah merupakan puisi percintaan “dunia”. HB Jassin (1986) menabalkan TAH sebagai “raja” penyair Pujangga Baru. Masih berlanjut hingga tahun 1995, Salleh Yaapar memilih aspek keagamaan sebagai perspektif menelaah karya TAH. Bahkan hingga 1 abad kemudian, sebuah pendapat diajukan oleh Hudjolly (2011) bahwa persitegangan “konvensi dan invensi” merupakan inti dari sistem teks puisi TAH.

Masih berderat nama-nama para pencari akar pokok puisi TAH yang belum disebut. Kini, karya Tengku Amir Hamzah telah berusia 100 tahun, namun perdebatan tentangnya akan terus berlanjut. Tengku Amir Hamzah adalah seorang sastrawan ‘pra Indonesia’ yang oleh sastrawan ‘periode Indonesia’ seperti HB Jassin dikelompokkan dalam angkatan Pujangga Baru. Meletakkan TAH sebagai sastrawan modern atau punutup sastra Melayu sepenuhnya bergantung pada titik pijak, misalnya dari porsi unsur tradisi Melayu atau unsur bahasa Melayu. Keduanya berbeda secara prinsip dan menimbulkan implikasi terhadap lebel modern atau sastra lama. Toh, bagi Chairil Anwar, susunan kata-kata TAH bersifat destruktif terhadap bahasa lama. “Suatu sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru” dan kajian terhadap karyanya masih terus berlangsung hingga 1 abad lamanya.

Tak kurang A John (1964), mengajukan pendapat “He was not merely the poet who gave a temporary new life to the traditional forms and diction of Malay verse. One might say that the more he wrote, the less Malay, the more Indonesian he became.” (A Johns, 1964. Amir Hamzah, Malay prince, Indonesian poet, h. 315). Rasanya, “menjadi lebih Indonesia” bukanlah proses yang sederhana, butuh penyatuan antara identitas lama terhadap invensi yang dapat mencapai konvensi baru. Di titik inilah kiprah TAH masih terasa aktual: menjadi lebih Indonesia di saat identitas kebangsaan “segan mati, tak mau hidup” dalam kecamuk globalitas.

TAH hidup di masa menjelang terbentuknya Indonesia, pada fase penggumpalan identitas besar primordial menjadi bangsa Indonesia. Rekaman pendidikan Belanda semenjak kecil memudahkan TAH bergaul dalam wacana internasional, TAH dapat secara latah menyajikan sajak dan prosanya ke bahasa Belanda atau memasukan semesta Holanda dalam prosa lirisnya.

Namun, TAH mengambil jalan Indonesianisasi dari ramuan semesta sastra Asia-Timur plus sastra Eropa (Belanda). Karya “Setanggi Timur” disalin dari para sastrawan Timur, gaya sufistik-Persia juga melekat dalam jiwa pantun ala Melayu dalam “Buah Rindu”. Pun, ia tidak bergayut dalam suasana apolijia primordial dan tersajilah menjadi Indonesia dalam “Nyanyi Sunyi”. Tepatnya, menghadirkan semesta Indonesia ke dunia sastra, sebagaimana para founding fathers Republik ini menghadirkan semesta Indonesia ke dalam ideologi negara: Pancasila.

Jalan menjadi Indonesia yang ditempuh TAH masih harus diaktualkan, meski momentum 1 abad TAH telah lewat, sastra TAH layak menjadi dentang perlawanan bahwa Semesta Indonesia musti dapat menjadi tuan di rumah sendiri, pada segala bidang, terutama pendidikan dan ekonomi. Sajak TAH telah menyertai hadirnya Semesta Indonesia pada tahun-tahun pertama jabang bayi bangsa Indonesia dan sajak itu belum lekang dimakan waktu.

Apalagi saat ini, identitas si jabang bayi itu telah termakan usia, yang mestinya tak boleh lapuk. Di tanah sosial politik, rumah identitas bangsa yang bernama Ideologi, dimakan rayap counter ideologi dan luruhnya semesta Indonesia. Tidak ada lagi menjadi Indonesia, yang ada menjadi asing dan kian asing sampai generasi milineum kesulitan merumuskan identitas Indonesia. Jadilah kita ini bulan-bulanan mode dunia, tren dunia, budaya global di segala sektor.

Dahulu, sastra dan kebudayaan ikut aktif menyemai embrio-embrio identitas bangsa: Berbahasa Satu, Berbangsa Satu. Maka dapatlah kini sastra dan tradisi nusantara menjadi bumi pijak bertumbuhnya semesta Indonesia. Kembali membangkitkan semesta Indonesia yang menghembuskan derai para pecinta Indonesia menjadi semakin Indonesia di segala bidang.

__________

Hudjolly.,M.Phil, Peminat Kajian Tradisi Nusantara

Foto: http://family-pata.blogspot.com

 


  Bagikan informasi buku ini ke teman Anda :  


Read : 4.629

More Opinion